Home / Genre / Teenlit / 7. Cinta Bertemu Keluarga Satria

7. Cinta Bertemu Keluarga Satria

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 8 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Dini merentangkan tangannya lebar-lebar, gelang-gelangnya menari-nari hingga ke siku. Cinta ingin memanfaatkan momen ini untuk bertanya tentang tawaran pekerjaan aneh ini dan memarahi mamanya karena tidak memberitahu lebih awal. Apakah mereka benar-benar akan menetap di Batu? Apakah dia akan lulus SMA di sini? Atau ini hanya salah satu rencana konyol mamanya untuk menyingkirkan Cinta malam ini?

Sejauh yang dia tahu, mamanya bertemu seorang pria di pameran kerajinan dan ingin bersamanya tanpa ada anaknya yaang masih remaja menghalanginya.

Cinta mendesah dan berjalan ke pelukannya.

Mamanya meraih bagian belakang kepala Cinta dan memeluknya erat, meremasnya sampai Cinta kehabisan napas dan harus megap-megap mencari udara.

“Aku mencintaimu, Cicin,” kata Dini lembut, menggunakan nama panggilan dari masa kecil Cinta.

“Aku juga mencintaimu, Dini.”

Saat pelukan itu akhirnya berakhir, Dini menarik diri dan memegang Cinta sejauh lengan. Matanya tampak sedikit berair, tetapi mungkin itu hanya tipuan cahaya. Mamanya tidak terlalu emosional tentang hal-hal seperti ini.

“Kamu akan baik-baik saja,” katanya seolah-olah Cinta bocvah berusia lima tahun.

“Buat aku bangga, oke?”

Cinta mengangkat alis.

“Aku berjanji tidak akan membakar rumah mereka dalam dua puluh empat jam ke depan.”

Mata mamanya melembut, dua batu permata bening tanpa beban apa pun di dunia ini. “Baiklah, baiklah, aku akan keluar dari sini,” katanya.

“Semoga berhasil dengan wawancaramu.”

Dini mengangguk. Bibirnya terkatup rapat dalam senyum tipis. “Terima kasih, sayang.”

Dia memeluk Cinta erat-erat lalu berbalik dan pergi. Mungkin aku memang gila, tapi matanya benar-benar tampak menahan air mata yang nyata dan tulus. Dia tampak sedih karena meninggalkanku di sini. Atau mungkin dia pikir dia tidak akan bisa melihatku lagi, pikir Cinta.

***

Keesokan paginya, Adam terhuyung-huyung ke dapur seperti zombie, mengikuti tuntutan perutnya yang kelaparan. Karena besok adalah hari pertama anak-anak masuk lock-in saat liburan dan dia akan mengawasinya, diaa libur kerja hari ini. Adam mengira papanya akan bersikap baik sebelum membuat dia menderita di tangan belasan anak TK.

Satu hal tentang pekerjaan barunya di bisnis keluarga: sangat kejam karena dirinya terpaksa bangun pagi sekali padahal libur sekolah. Dia tidak pernah bangun sepagi ini kecuali hari balapan. Dan bahkan saat itu, dia bangun pagi-pagi sekali hanya untuk merangkak ke pikap papanya dan tidur sampai mereka tiba di lintasan. Namun sekarang setelah hanya beberapa hari memiliki pekerjaan tetap, badannya terpaksa bangun pada pukul tujuh pagi.

Mamanya sedang mengobrol di telepon di sudut ruang makan. Suaranya lebih bersemangat dari biasanya.

“Jadi kamu membiarkan dia menginap di rumahmu? Kamu tidak takut dia perampok?”

Adam mengangkat sebelah alis, bertanya-tanya dengan siapa mamanya berbicara sambil mengambil mangkuk sereal dan mengisinya sampai penuh dengan Lucky Charms. Mamanya melanjutkan, “Anak berusia tujuh belas tahun bisa menjadi perampok! Dia bisa menjadi pengintai, ditempatkan di sana untuk memeriksa barang-barang berharga milikmu dan kemudian memberi tahu anggota gengnya waktu kamu dan Bakri nggak ada di rumah.”

Sekarang Adam yang penasaran. Mereka membicarakan tentang cewek tadi malam, Cinta.

Adam melirik mamanya dan dia memutar bola matanya, dan menunjuk ke ponselnya seolah berkata, “Kamu tahu Tante Noni!”

Adam menuangkan susu dan kemudian berjalan ke meja sarapan, duduk di seberang mamanya.

“Cewek itu nggak kelihatan seperti perampok,” katanya, dan diaa heran sendiri mengapa dia membela seseorang yang tidak dikenalnya.

Dia tidak begitu baik padaku, pikirnya.

“Adam setuju denganmu,” kata mamanya, mengangkat bahu ketika berbicara. “Kamu harus mengundangnya ke sini. Irfan pandai membaca orang dan dia akan tahu kalau ada sesuatu yang mencurigakan.”

Adam melahap serealnya, mengabaikan seluruh pembicaraan dan mencoba merencanakan acara hari libur di dalam kepalanya. Dia tahu ada pesta di danau malam ini, jadi mungkin dia akan mampir ke sana. Mungkin akan ada orang lain selain Vindy yang bisa diajak menghabiskan waktu.

Suara Kinan meninggi. “Ooooh, itu pasti menyenangkan! Ya, ya, Ibu punya banyak telur. Beri Ibu waktu lima menit untuk berpakaian.”

Aku berdiri dan meraih kotak sereal, bersiap untuk mengisi ulang mangkuknya.

“Adam, jangan makan lagi,” kata Kinan, mengusir putranya dengan lambaian tangan.

“Apa? Kenapa? Aku kelaparan.”

“Noni dan Bakri akan datang dengan gadis itu,” kata mamanya, mengambil kotak sereal dan menaruhnya kembali di lemari dapur. “Kita akan membuat sarapan keluarga besar jadi sebaiknya kamu tetap lapar.”

“Kamu selalu lapar,” kata Adam, menaruh mangkuk dan sendok serealnya ke dalam mesin pencuci piring.

“Menurutmu apa yang terjadi dengan cewek itu?” mamanya bertanya sambil menatap Adam dengan pandangan penuh konspirasi.

“Maksudku, ibu macam apa yang bertemu dengan orang asing dan kemudian membiarkan putrinya menginap bersamanya? Bakri dan Noni bisa saja mesum!”

Adam tertawa. “Kurasa bagus juga mereka tidak mesum.”

Kinan mengambil telur, sosis, dan keju dari kulkas lalu menyerahkan dua kaleng adonan roti kepada Adam.

“Tetap saja ada yang aneh, tahu? Maksudku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dengan orang asing.”

“Itu karena kamu ibu yang baik,” kataku.

Kinan menyeringai dan memeluk anaknya. “Aww, Adam.”

Adam memutar bola matanya. “Apa yang kamu ingin aku lakukan dengan ini?” tanya Adam sambil mengangkat biskuit.

“Ambil wajan dan panggang, hellooow!”

Mamanya menepuk bagian belakang kepala Adam lalu berjalan santai ke dapur untuk mulai memasak.

Adam membentuk adonan roti dan menaruhnya dengan jarak lima sentiketer di atas loyang ketika pintu belakang terbuka. Karena pintu depan lebih merupakan pintu masuk resmi, keluarga Bakri selalu masuk lewat belakang. Mereka juga masuk tanpa menunggu disuruh karena pada dasarnya mereka adalah keluarga. Itulah sebabnya Adam memanggil Noni sebagai “Mama Kedua” dan Adam pikir Noni sangat menikmatinya.

Dia fokus pada tugas menaruh adonan di loyang meskipun perutnya tiba-tiba terasa ringan dan kosong begitu membayangkan bertemu Cinta lagi. Dia tahu mamanya akan menghakimi Cinta sepanjang pagi ini, mencoba diam-diam mencari tahu apakah Cinta menyembunyikan sesuatu yang jahat di balik alasan dia menginap. Meskipun Adam berpikir mamanya paranoid karena selalu bersikap curiga, dia jugaa masih bertanya-tanya mengapa Cinta ada di sini.

Itu benar-benar aneh.

Papanya turun ke bawah karena mamanya memanggil. Irfan dan Bakri langsung membicarakan pekerjaan.

Noni memperkenalkan Cinta kepada Kinan dan saling menyapa dengan ramah. Adam tidak tahu mengapa tiba-tiba dia sangat gugup melihat Cinta, tetapi dia tahu bahwa berdiri di sini sambil menatap setumpuk adonan mentah membuat dia tampak seperti cowok aneh.

Adam menoleh dengan santai, dan  dia melihat Cinta dengan ekspresi canggung seperti yang sudah diduganya.

“Hai,” sapa Adam, mengangguk ramah.

Cinta mengenakan celana pendek jins yang dipotong cukup pendek sehingga bagian dalam sakunya menggantung di depan pahanya, dan tank top hitam polos. Jari-jari kakinya melengkung di atas sandal jepitnya, seolah-olah dia siap untuk kabur kapan saja.

“Selamat pagi,” sapa Cinta, sambil menggaruk sikunya. Tatapan mereka bertemu sesaat lalu Cinta menunduk, tetapi tidak melihat ke lantai. Pipinya memerah dan Aadam menyadari apa yang sedang dia lihat.

Adam bertelanjang dada.

Cinta berpaling, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.

Adam kembali ke adonannya dan memasukkannya ke dalam oven sambil menyembunyikan senyum lebar.

Dia pikir aku seksi, dan menurutku dia misterius, pikirnya.

Percayalah Padaku Cinta

. Dini Pergi . Carpe Diem

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image