Aku berdiri di tepi jalan kecil tempat Bhaskoro menitipkan mobilnya. Ia menyampaikan pamit karena tidak bisa ikut dalam eksplorasi besok. Suaranya tenang, nyaris datar, tapi ada jeda yang terasa lebih panjang dari biasanya sebelum ia menyebut alasan, keperluan keluarga yang tak bisa ditunda. Aku mengangguk, berusaha menampilkan wajah yang wajar, seolah kepergiannya hanya satu detail kecil dalam perjalanan panjang kami.
Meski di dalam dadaku, rasa kecewa itu tetap ada. Bhaskoro selalu membawa warna berbeda dalam setiap eksplorasi, candanya, puisinya yang tiba-tiba, cara ia melihat reruntuhan batu seolah masih berdenyut dengan kehidupan masa lalu. Ketidak hadirnya akan terasa seperti meninggalkan satu halaman kosong dalam catatan perjalanan kami.
Namun, di sela kekecewaan itu, ada kelegaan yang diam-diam menyusup. Perjalanan akan berjalan lebih sederhana, lebih hening. Tidak ada godaan untuk menoleh ke belakang, tidak ada percakapan yang berpotensi mengaduk perasaan yang selama ini kupendam rapat-rapat.
Kami berpisah di persimpangan, Bhaskoro menawarkan mengantar Zack dan Ayesha ke penginapan, katanya sebagai permintaan maaf dan agar aku tidak capak. Aku mengiyakan, mengucap terima kasih, dan meluncur di jalan arah pulang, tanpa drama dan kata-kata yang justru akan memporak porandakan hatiku.
Pagi datang dengan cepat, Zack, dan Ayesha sudah menunggu di lobby saat aku baru memasuki area parkir penginapan. Matahari masih enggan menampakkan diri, semburat pucat muncul dari sela-sela pegunungan Manoreh.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Candimulyo. menuju situs-situs yang belum banyak dicatat, belum banyak disentuh cerita. Aku menarik napas panjang, menata ulang perasaan, dan melangkah maju … membiarkan hari ini menulis kisahnya sendiri tanpa Bhaskoro, tapi tetap dengan rasa yang utuh.
Dalam perjalanan menuju Kecamatan Candimulyo, sepanjang jalan adalah jalur hijau yang dikelilingi sawah terasering. Aroma segar udara desa dan keramahan penduduk menyambut. Jalan naik turun berkelok khas pedesaan yang berada di kaki gunung dengan udaranya yang sejuk. di kanan kiri pepohonan di antara perbukitan, seolah menyangga langit. Dari kejauhan mata dimanjakan oleh pemandangan Gunung Merapi yang megah.
Di Kecamatan Candimulyo, Magelang, banyak ditemukan situs-situs kuno dan peninggalan candi, meskipun seringkali hanya berupa yoni atau bagian candi yang tertimbun di sawah atau lahan warga. Mobil berhenti di Desa Tembelang, sebuah desa yang konon mengindikasikan adanya candi atau peninggalan purbakala yang terkubur di wilayah tersebut, bahkan ada yang diperkirakan sebagai peninggalan Pangeran Diponegoro.
Tidak ada yang istimewa kecuali Yoni dan Arca Kuno. Menurut seorang warga bernama Ngadino yang kami temui, beliau mengatakan bahwa Yoni atau batu berbentuk lesung dan arca kuno tersebut ditemukan pertama kali oleh Dasri, warga Dusun Tembelang Kulon dalam keadaan terkubur di sawah.
Ketika ia menggali tanah untuk bahan produksi, tiba-tiba cangkulnya mengenai sebuah batu. Setelah digali lagi, ternyata batu itu sangat besar dan berbentuk arca.
Arca yang berbentuk kotak dengan bagian atas terdapat kepala manusia. Saat ini masih terlihat satu arca lagi yang tertimbun, tapi tidak diambil karena berat sekali, dan ada dumpal atau dudukan arca. serta batu yang ada tulisannya seperti prasasti.
Alasan lain karena arca tersebut berada di sawah milik warga, biaya yang diperlulan juga banyak. Mungkinkah Desa Tembelang dahulunya adalah kawasan bangunan candi? Belum ada penelitian yang dilakukan.
Salah satu batu yag sudah digali diabadikan pada sebuah tugu yang terletak di ujung Desa Tembelang Kulon, tepat di perbatasan dengan Dusun Dalangan.
Kami melanjutkan menuju desa yang tak jauh dari desa Tembalang, terdapat Situs Pendeman Jaran, sebuah situs kuno di Candimulyo yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Karena tak banyak yang diketahui dengan pasti keberadaannya, kami hanya mengulik cerita tentang keberadaan situs-situs yang belum terjamah . Beberapa situs candi di Candimulyo memiliki cerita mistis, konon benda-benda kuno yang sempat dipindahkan dipercaya selalu kembali ke tempat asalnya.
Mendengar kisah itu, Zack menganga heran, hal seperti itu memang tidak masuk di logika di negara barat yang mengedepankan akal dan logika. Namun, di negara timur hal tersebut merupakan urban legend yang lumrah, diceritakan dari generasi ke generasi berikutnya.
Penemuan-penemuan situs-situs tersebut menunjukkan bahwa Candimulyo berpotensi menjadi lokasi situs cagar budaya yang layak untuk diteliti lebih lanjut oleh pihak terkait seperti BPCB atau Balai Pelestarian Cagar Budaya.
Intinya nama “Candimulyo” sendiri memang mengindikasikan adanya candi, dan banyak penemuan arkeologis kecil tersebar di wilayah ini, meskipun belum tentu berbentuk candi besar yang utuh.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang sudah melakukan pendataan situs cagar budaya yang tersebar di wilayah Kecamatan Candimulyo Kabupaten Magelang.
Salah satu tujuan pendataan dan inventarisir situs cagar budaya tersebut adalah untuk edukasi kepada siswa sekolah. Menurut warga yang kami ajak mengobrol, ia bertutur bahwa berdasar pendataan sebuah situs terbengkalai yang berada di perkebunan warga Dusun Beji Desa Tampir Kulon Kecamatan Candimulyo layak untuk dilaporkan kepada Balai Pelestari Cagar Budaya Jawa Tengah.
Pada situs tersebut, terdapat banyak sekali tumpukan batu candi yang berserakan di kebun warga. Bahkan tidak jauh dari lokasi tersebut juga terdapat dua buah lumpang dan yoni dengan ukuran sedang.
“Menurut kami ini layak untuk kita laporkan ke BPCB Jateng. Karena jumlah temuan berupa batu candi dan sebagainya jumlahnya lumayan banyak,” ujar warga bernama Ngatno tersebut.
Selain di Dusun Beji Desa Tampir Kulon pendataan juga dilakukan di sebuah situs di Dusun Bolong Desa Tegalsari. Didorong rasa penasaran, kami melanjutkan eksplorasi menuju situs yang berupa bebatuan di atas makam yang oleh penduduk setempat dinamakan Nyi Gadhung Melati. Di sebelahnya terdapat sebuah batu yang diduga sebagai alas dari prasasti Kamalagi atau Kuburan Candi yang dikenal dengan Situs Gagak Handoko dan Situs Gadhung Melati.
Dari informasi yang kami dapat dari warga sekitar, sebenarnya pemerintah desa ingin mengangkat kedua situs itu menjadi sebuah ikon maupun destinasi wisata, tapi terkendala keterbatasan anggaran. Karena tidak bisa didanai menggunakan dana desa.
Untuk itu menurutnya perlu adanya kerjasama dan berbagai pihak untuk dapat mengangkat situs tersebut menjadi sebuah destinasi wisata berbasis cagar budaya. Bahkan dirinya juga menginginkan prasasti di situs Gadung Melati yang hilang dapat kembali dan dapat dijadikan ikon untuk Desa Tegalsari.
Diduga, prasasti Gadung Melati tersebut adalah Prasasti Kamalagi atau Kuburan Candi di tahun 743 Saka atau 821 Masehi.
Saat kami melewati sebuah dusun, Zack menunjuk pada monumen berbentuk durian dengan ukuran yang cukup besar. Laki-laki bule itu fokus pada bentuk monumen yang tak lagi utuh.
“Mengapa ada monumen durian di sini?” tanyanya ingin tahu. Aku tersenyum tipis, tiba-tiba timbul niat iseng untuk menyuguhkan buah yang menjadi ikon Candimulyo tersebut.
***









