Jika belum membaca artikel sebelumnya, silakan baca Part 1 dan Part 2 terlebih dulu.
- Oversharing: Pernahkah membaca status yang terus di-update teman atau rekan di media sosialnya? Barangkali memang ia sedang berbahagia (misalnya baru lulus sekolah, menikah, punya kekasih baru dan lain-lain). Ia rindu membagikan atau mengabadikan momen indah dan penting dalam kehidupannya kepada sahabat dan keluarga agar mereka tahu. Namun apabila dikit-dikit ia share entah kehidupan sehari-hari yang ‘receh-receh’ atau apa saja kata teman- bestie-nya tanpa disadari, sesungguhnya beberapa hal rentan terjadi tanpa disadari. Mungkin yang ringan misalnya dianggap kepo atau kurang kerjaan. Ada pula yang berat, misalnya dianggap membosankan hingga gak lagi dianggap penting, malah rentan di-skip. Apapun itu, berusahalah agar kita tidak oversharing kehidupan pribadi atau ‘apa kata orang lain’. Satu oversharing yang boleh kita lakukan bahkan penulis anjurkan adalah ‘oversharing berkat Tuhan’ dengan cara bersyukur, memuji-Nya lewat lagu atau nyanyian, dapat juga dengan bersaksi di media sosial, membagikan unggahan atau postingan yang telah menggugah hati kita.
- Overthinking: Berpikir adalah hal yang kita lakukan sebelum berbicara, bukan sebaliknya. Sayangnya, terlalu banyak berpikir malah cenderung negatif karena dapat membuang-buang waktu hingga menghilangkan damai sejahtera dalam hati. Daripada overthinking, ubahlah kebiasaan terlalu banyak mikir itu menjadi overjoyed. Merasa bahagia dengan apa yang ada dan situasi-kondisi-keadaan yang barangkali tidak seberapa indah (atau cukup, atau memuaskan, dan sebagainya) adalah mindset yang patut dilatih, dimiliki dan dipelihara. Kalahkan overthinking dengan overjoyed, just hand it over to God.
- Must (must have, must read, must see, must try, dan lain sebagainya): Segala sesuatu yang must atau ‘harus’ seakan-akan terus ditawarkan/disodorkan di depan mata kita tanpa jeda, seakan-akan si pemilik akun/pengiklan gak menerima penolakan atau pilihan lainnya. Saat kata-kata must have atau must try terbaca/terdengar, seringkali tanpa sadar kita mengiyakan atau menerimanya begitu saja karena sugesti yang diberikannya begitu kuat. “Semua orang pasti udah mencobanya, jika saya gak buru-buru, nanti saya dianggap kudet, ketinggalan zaman.” Meski masih berkaitan dengan fenomena FOMO atau fear of missing out, ‘must have’ masih belum terlalu menakutkan, namun perlu diwaspadai. Cara untuk menghindari rasa ingin coba-coba karena tersugesti label ‘must’ ini-itu adalah menanamkan jika ‘must’ yang terutama adalah ‘must trust God above all things’, bukan ‘must’ yang lain-lain itu. Selalu ada satu-dua atau lebih pilihan untuk mencoba hingga mengambil keputusan, hasilnya juga belum tentu sesuai ekspektasi. Hanya ada satu pilihan terbaik bagi Orang Percaya, yaitu Tuhan semata-mata.
- Kocak: Kocak secara umum berarti fun atau lucu, namun belakangan kata ini sering juga muncul di komentar atau bahasa gaul dunia maya secara ironis atau bermaksud menyindir. Misalnya, “Kocak banget Guys, dia yang dulu bilang jangan korupsi, sekarang ketahuan korupsi.” Hidup kita juga kadang ‘kocak’, contoh sederhananya; udah kerja keras plus rajin melayani Tuhan kok rezeki tetap pas-pasan, sebaliknya yang ongkang-ongkang kaki dan gak pernah melayani malah hartanya melimpah-limpah. Hidup yang ‘kocak’ alias ironis ini bukan hanya untuk ditertawakan apalagi disesali, melainkan satu dari sekian cara Tuhan agar kita teringat kepada-Nya. Apabila hidup terlalu nyaman alias enak, manusia cenderung mudah melupakan-Nya. Saat hidup terasa ‘kocak’, jangan adukan kepada yang lain, adukanlah hanya kepada Tuhan.
Itulah beberapa istilah kekinian di dunia maya yang perlu kita ketahui sebelum ikut-ikutan menggunakannya. Sebagai Orang Percaya, kita jangan menutup mata pada kemajuan, melainkan belajar beradaptasi, menyaring info, tidak turut menyebarkan hoaks, serta terus bersaksi menyebarkan Kabar Sukacita bagi kemuliaan nama-Nya.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 10-12 Februari 2026











