Home / Topik / Kehidupan Kristen: Bukan Masalah Simbolnya, Makna Salib Jauh Lebih Besar

Kehidupan Kristen: Bukan Masalah Simbolnya, Makna Salib Jauh Lebih Besar

Kehidupan Kristen 20260305
4

Pada satu titik dalam garis panjang kehidupan, penulis pernah merasa ‘muak’ dengan pilihan orang-orang yang hanya menggunakan simbol-simbol atau atribut keagamaan. Merasa jika yang memakainya kebanyakan hanya untuk kelihatan religius atau pamer saja (hanya untuk dilihat orang lain), penulis menolak menggunakan tanda salib dalam wujud apapun pada tubuh, entah perhiasan, terlebih lagi rajah atau tato.

Akan tetapi seiring perjalanan kembali kepada Tuhan ibarat ‘Si Anak Hilang’ atau ‘satu domba tersesat’ kira-kira dari pertengahan tahun 2024, penulis menemukan jika salib yang kerap digunakan sebagai simbol itu, sama seperti manusia memiliki dua atau lebih alasan (entah positif atau negatif), jauh lebih besar maknanya.

  1. Bukan masalah metode, ukuran atau bahannya, seorang pemakai simbol salib (selayaknya) tak hanya memilih untuk menggunakannya sebagai atribut agama belaka. Meskipun bukan sebuah kewajiban/keharusan bagi Orang-orang Percaya, cukup banyak Anak-anak Tuhan (atau yang mengaku sebagai Anak Tuhan, padahal belum tentu hatinya terarah kepada Tuhan) menggunakan salib di leher, telinga, pergelangan tangan bahkan di kulit. Lihat saja artis-artis K-Pop atau idol-idol Negeri Ginseng yang menggunakan salib, padahal entah mereka percaya atau tidak kepada Tuhan Yesus. Tidak bermaksud menghakimi, penulis menganjurkan agar kita menggunakan salib bukan hanya untuk pamer-pamer doang, apalagi hanya untuk perlindungan sementara, mengusir entitas jahat seperti dalam film-film horor, melainkan untuk mengingatkan kepada diri sendiri pada kebesaran Tuhan.
  2. Tidak melulu bermakna keren atau ‘hebat’, bagi dunia, salib pernah (dan hingga kini, masih) dipandang sebagai ‘kebodohan’. Jadi, jangan bangga dulu jika ‘hanya’ menggunakan salib. Kok bisa? Salib yang pada awalnya adalah metode hukuman mati pada zaman Yesus adalah hukuman paling berat bahkan sangat hina, capital punishment. Tentu saja yang layak diganjar hukuman seperti itu adalah para pembunuh, penjahat kelas kakap, pokoknya orang-orang yang ‘layak’. Apakah Yesus layak? Kitalah yang layak diganjar dengan maut atas segala pelanggaran dan dosa. Akan tetapi Yesus yang tidak berdosa dengan rela dan penuh kasih (kasih yang tiada terselami besar, tinggi, luas dan dalamnya, mengapa bisa?) Dia mati menggantikan setiap manusia (setiap, bukan hanya yang sudah percaya) yang seharusnya mati sebagai upah dosa (bukan hanya tentang tubuh, juga jiwa-roh yang terhilang selamanya). Salib dianggap sebagai suatu kebodohan karena dunia cenderung berpikir ‘kok Tuhanmu mau-mau aja disalib?’. Dunia belum mengerti jika tanpa kematian-Nya, jalan menuju keselamatan takkan pernah terbuka. Bagi kita, salib bukanlah lambang kebodohan, melainkan lambang penderitaan berbuah kemenangan-Nya atas maut. Mari kenakan dengan penuh rasa bangga (bukan sombong/tinggi hati), disertai penghayatan dan rasa syukur-hormat bagi-Nya.
  3. Bukan masalah di mana letaknya, siapa saja dapat menggunakan, juga apa bahannya (misalnya jika berupa perhiasan maka harus dari emas asli dengan mata berlian dan sebagainya), melainkan apakah hati Anda juga turut mengenakan salib-Nya. Jika dunia saja menggunakan simbol-simbol lain yang mereka pegang ‘teguh’, maka mengapa kita tidak?

Boleh-boleh saja mengenakan atau membawa simbol salib, penulis tidak menganjurkan atau melarang. Akan tetapi sebelum menggunakannya, hendaknya kita melakukan introspeksi dulu; apakah kita sudah menyalibkan ‘ke-aku-an’/hidup kita yang lama dan masuk ke dalam hidup baru bersama Tuhan? Apakah kita sudah mengerti makna salib nan sesungguhnya dan bukan hanya ikut-ikutan bergaya ala dunia? Salib bukan sekadar aksesori religi atau pajangan dinding di rumah atau gereja, melainkan beban maha indah yang juga menjadi simbol kemenangan atas maut dan iblis serta godaan dunia yang sementara ini.

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.


Tangerang, 5 Maret 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image