Bagi warga Magelang dan sekitarnya, pasti mengenal betul Gunung Telomoyo yang terletak di Desa Pandean, Kecamatan Ngablak. Gunung yang memiliki ketinggian 1.894 mdpl ini merupakan gunung api yang berbentuk stratovolcano (kerucut).
Namun, berbeda dari gunung berapi yang lainnya, Gunung Telomoyo hampir tidak pernah meletus sepanjang sejarah. Meski melihat bentuknya yang sangat identik dengan gunung berapi stratovolcano, tidak diragukan lagi bahwa, gunung ini merupakan sebuah gunung yang memiliki sejarah vulkanisme yang hebat.
Berdasarkan data Wikipedia, Gunung Telomoyo terbentuk dari letusan gunung kuno Soropati yang telah mengalami erosi hebat pada jutaan tahun yang lalu. Erosi ini kemudian membentuk beberapa topografi unik di wilayah Jawa Tengah yaitu Gunung Telomoyo, Gunung Batok, dan Gunung Andong.
Simbolisme Budaya Nama “Telomoyo” sendiri memiliki makna mendalam dalam budaya Jawa. Secara etimologis, “Telo” berarti tiga dan “Moyo” berarti bulan. Hal ini melambangkan pentingnya pelestarian alam serta hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.
Pada hari libur, Gunung Telomoyo ramai dikunjungi para wisatawan yang sekadar ingin menikmati keindahan puncak di atas awan. Jika datang pada saat cuaca cerah, saat berada di puncak dapat melihat pemandangan tujuh gunung yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Ungaran , Gunung Andong, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prau.
Jalur ke puncak Gunung Telomoyo dapat didaki menggunakan kendaraan bermotor, tapi kendaraan roda empat tidak diperbolehkan menuju puncak karena jalurnya yang sempit dengan tanjakan serta turunan yang curam. Namun, bagi wisatawan yang datang berombongan, jangan khawatir karena pihak pengelola juga menyediakan armada jeep untuk menuju ke puncak Gunung Telomoyo.
Gunung dengan ketinggian 1.894 mdpl ini sangat fantastis karena memiliki Sunrise yang menawan. Medan yang tidak terlalu terjal dan pemandangan yang indah sepanjang jalur pendakian, bisa ditempuh dalam waktu 3 hingga 5 jam tergantung kecepatan pendaki.
Sayangnya di kalangan para pendaki gunung, gunung Telomoyo tidak begitu menarik untuk dijadikan destinasi pendakian. Alasannya karena untuk mencapai puncak gunung ini, bahkan bisa melakukannya dengan mengendarai sepeda motor. Ada sebuah jalan aspal dari kaki gunung hingga ke puncak yang membuat aksesnya terasa sangat mudah.
Berbeda bagi para pendaki sejati. Gunung Telomoyo justru jauh lebih menantang jika dibandingkan dengan gunung Andong. Medan pendakiannya memang tidak begitu sulit, tetapi dari sisi tantangan misterinya, Gunung Telomoyo justru jauh lebih menakutkan daripada misteri gunung Andong.
Namun, meski cukup terkenal sebagai objek wisata dan pendakian, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui bahwa Gunung Telomoyo menyimpan beberapa misteri dan cerita mistis yang melekat.
Salah satu misteri Gunung Telomoyo adalah keberadaan beberapa makam di wilayah gunung ini. Jika mendaki gunung menggunakan sepeda motor melalui jalanan yang sudah diaspal, di punggung gunung sekitar 200 meter menjelang puncak akan menemukan sebuah bangunan makam yang terletak di sebelah kiri jalan.
Bukan makam ini yang dimaksud, tapi yang dimaksud adalah makam yang terletak di antara dua puncak Gunung Telomoyo. Tempat tersebut menjadi semacam punggungan penghubung antara dua puncak Telomoyo dengan rimbunan hutan belantara yang lebat dan jarang dijamah oleh manusia. Seorang penulis Anton Sujarwo (A Wan Bong) dalam novel MMA Trail, menuliskan bahwa punggungan ini disebut dengan Lembah Kamutih.
Disebutkan Gunung Telomoyo adalah gunung api tipe stratovolcano, tapi kawah Gunung Telomoyo tidak eksis. Sebagai gantinya, sebuah punggungan tipis menjadi penghubung antara puncak tertinggi Telomoyo yang disebut juga dengan Puncak Pemancar menuju puncak yang lebih rendah yang disebut dengan Puncak Telomoyo.
Di atas punggungan inilah disebutkan dalam novel MMA Trail terdapat makam misterius, tepat di bawah gelap dan rindangnya hutan Gunung Telomoyo. Meski penulis tidak menyebutkan siapa pemilik makam tersebut, tapi dia menggambarkan bahwa auranya sangat magis dan terasa menakutkan. Bahkan tokoh utama dalam novel MMA Trail itu diceritakan sempat mengalami mati suri saat terjatuh tak jauh dari makam misterius tersebut.
Bagi yang pernah mendaki Gunung Telomoyo melalui rute pendakian Dalangan, sekitar 200 meter mendekati puncak pasti mendapati sebuah lintasan mendatar dengan semak belukar lebat di atas jalanan. Dalam gelap, rute ini persis seperti terowongan seperti yang disebut dalam buku MMA Trail, di tempat inilah diceritakan bahwa, tokoh utama cerita dihadang oleh seekor macan kumbang dengan mata menyorot laksana bola api.
Seperti halnya di gunung-gunung lain di pulau Jawa yang masih sering ditemui fenomena keberadaan macan kumbang dengan warnanya hitam gelap tertangkap camera trap, di Gunung Telomoyo pun konon masih terdapat macan kumbang. Namun, sejauh ini Telomoyo dengan akses jalan aspal hingga ke puncaknya, memang belum pernah ditemukan kasus pengunjung berpapasan dengan binatang buas. Bukan berarti tidak ada hewan buas di sisi lain Gunung Telomoyo ini, bukan?
Dari semua kisah mistis yang paling dikenang oleh masyarakat sekitar hingga saat ini adalah kematian seluruh snggota pementasan wayang di Desa Sepayung.
Di suatu masa, kampung Sepayung mengadakan pentas seni wayang kulit dengan kru pewayang yang jumlahnya puluhan orang termasuk dalang, sinden, penabuh gamelan dan beberapa kru yang lain. Untuk membuat pertunjukkan semakin meriah, didirikanlah semacam panggung pementasan yang lokasinya tepat di kaki Gunung Telomoyo.
Beberapa saat setelah pertunjukan wayang kulit dimulai, tiba-tiba terjadi angin ribut yang membuat pohon-pohon tumbang dan dinding gunung Telomoyo longsor. Dalam peristiwa naas itu, tragisnya seluruh angota kru pewayangan itu tewas tak bersisa.
Setelah kejadian itu, desa Sepayung kemudian berganti nama menjadi Dalangan. Untuk mengingatkan mereka bahwa Dalang dan kru pewayangannya pernah mengalami nasib buruk di kampung itu. Di pojok kampung
Hingga saat ini, pendaki yang mengambil rute pendakian melalui jalur Desa Dalangan akan menemukan beberapa makam kuno di pojok kampung yang kerapkali dianggap sebagai makam kru wayang yang tewas tersebut.
Misteri terakhir yang cukup mencekam dan masih dikutip dari buku MMA Trail karya Anton Sujarwo adalah keberadaan hantu pencekik di sekitar air terjun kecil, tidak jauh dari Pos I pendakian via Dalangan.
Namun, sebenarnya itu hanya kiasan. Jangan membayangkan hantu pencekik di Telomoyo seperti hantu dalam banyak film horor Indonesia yang bermuka seram, mata melolot dengan taring menjulur, dan kuku-kuku yang panjang siap mencekik leher. Hantu pencekik yang digambarkan penulis MMA Trail di air terjun Pos I gunung Telomoyo via Dalangan sama sekali berbeda.
Dikisahkan sang tokoh utama merasa seolah tercekik oleh udara Hutan Telomoyo yang begitu pekat menjelang magrib, sehingga dia tidak bisa bernapas karena pengab dan gelapnya hutan seakan membuat lehernya seperti tercekik.
Yang menariknya cekikan aneh berakhir setelah tokoh utama cerita dalam buku MMA Trail digambarkan mendengar sayup-sayup kumandang azan magrib dari masjid kampung Dalangan.
Jika penasaran dengan keindahan Gunung Telomoyo, lupakan kisah misterinya. Tetap berhati-hati dan patuhi larangan seperti halnya mendaki gunung lainnya. Jika ingin merasakan sensasi melayang di udara dengan hamparan hijau di bawah, silakan coba bermain paralayang.
Salah satu hal menarik dari Gunung Telomoyo adalah karena menjadi tempat lepas landas olahraga paralayang. Menurut beberapa sumber, ketinggian gunung Telomoyo yang mencapai hampir 2.000 mdpl menjadikan Gunung Telomoyo sebagai salah satu landasan paralayang tertinggi di Indonesia.
Dengan ketinggiannya yang cukup signifikan, aktivitas bermain paralayang di Telomoyo akan sangat mengasyikkan. Menikmati keindahan alam dari ketinggian, bahkan bisa menyaksikan keindahan kabupatan Semarang, wilayah Salatiga dan wilayah Magelang ketika sedang melayang di udara.









