Tante Noni meletakkan tangannya di pinggul.
Kalau dia dan Om Bakri punya anak sendiri, dia akan menjadi mama yang menakutkan tapi luar biasa. Luar biasa.
“Aku tahu kamu cowok ganteng di sini, tapi apakah kamu harus memilih lemari penyimpananku?”
Lengannya melambai liar. “Dari semua tempat di gedung ini, kamu harus berbuat tidak senonoh di sekitar karya seniku?”
Wanita hippie itu tertawa.
Adam melirik putri si wanita hippie. Dia tidak ingat namanya. Namanya dimulai dengan huruf C.
Cinta tersenyum, matanya yang gelap menatap Adam. Wajahnya terlihat jauh lebih cvantik ketika dia tidak cemberut seperti saat pertama kali Adam bertemu dengannya.
Adam mengedipkan mata pada CInta.
Noni menampar lengan Adam dan mengerang. “Keluarlah dari sini, Nak. Kenapa kalian tidak bisa bermesraan di mobil seperti remaja normal laainnya?”
Adam menatapnya dengan sinis. “Karena ada sofa di sini.”
Noni menampar lengannya lagi, dan Adam tahu itu pantas. Dia menempelkan kedua tangannya di depan dada. Pose yang berlebihan untuk meminta maaf pada Noni.
“Maaf, Mama Kedua. Aku tidak akan mengotori tempat penyimpananmu lagi.”
“Bagus,” bentak Noni, tetapi kemudian dia menyeringai dan memutar bola matanya.
“Keluar dari sini. Dan coba pikirkan, aku sudah bilang pada Cinta bahwa kamu akan menjadi teman yang baik.”
Adam kembali melirik ke Cinta dan cewek itu menyeringai. Sesuatu memberitahu Adam bahwa Cinta akan senang bersenang-senang sedikit.
Adam menarik bajunya ke atas kepala. Noni memberi tahu Dini tentang karya seninya, meninggalkan Cinta yang tampak bosan di dekat pintu. Adam memanfaatkan kesempatan itu untuk menggoda Cinta ketika dia berjalan melewatinya.
“Hubungi aku kalau kamu ingin tur malam-malam di tempat ini,” bisik Adam, menatap mata Cinta sebentar supaya dia tahu maksud Adam.
Adam sangat licik, atau setidaknya begitulah yang dia anggap tentang dirinya sendiri. Namun, kata-kata Adam itu mengubah ekspresi penasaran Cinta menjadi seringai jijik.
“Tidak akan pernah terjadi,” bisiknya.
Sial, aku gagal, pikir Adam. Baiklah, lanjut ke yang berikutnya.
Vindy sudah lama pergi ketika dia keluar. Dia menemui Adam dengan mobilnya, diparkir di belakang sehingga tidak ada yang melihatnya. Entah berapa lama dia akan marah pada Adam kali ini.
Cowok itu mulai berjalan menuju rumah, menimbang-nimbang apakah dia harus mengirim pesan permintaan maaf ke Vindy. Dia mencoba memutuskan apakah itu hal yang pantas untuk dilakukan, atau apakah itu akan tampak seperti sesuatu yang akan dilakukan seorang pacar.
Aku bukan pacar siapa-siapa, pikir Adam. Pacar terikat dan terbelenggu.
Cowok yang pacaran hanya bisa bersama satu cewek. Itu bukan gaya Adam. Papanya bilang dia akan berubah seiring bertambahnya usia. Bahwa suatu hari Adam bangun tidur dan tiba-tiba menginginkan hubungan yang nyata.
Papany bilang untuk tidak merusak hubungan dengan cewek-cewek yang dia kencani, karena dia tidak pernah tahu kapan tiba-tiba tumbuh dewasa dan perspektifnya tentang hidup akan berubah.
Papanya mencintai Kinan dan Kinan mencintai Papa dan mereka adalah pasangan yang sempurna, dan itu bagus untuk mereka. Sejujurnya, Adam senang bahwa orang tuanya masih saling mencintai, tidak seperti kebanyakan orang tua teman-temannya yang bercerai. Tapi kehidupan seperti itu tidak cocok untuknya. Dia suka bersenang-senang dan berpetualang. Dia suka cewek-cewek seksi dan tanpa ikatan.
Seorang pembalap motocross profesional tidak membutuhkan rantai dan borgol yang menahannya.
Adam telah mendengar ceramah papanya jutaan kali. Papanya selalu mengatakan padanya bahwa Adam akan berubah pikiran suatu hari nanti.
Dan Adam selalu menjawab bahwa “suatu hari nanti” itu bukanlah hari ini.
***
Apakah itu benar-benar baru saja terjadi? tanya Cinta dalam hati.
Cowok yang sangat seksi dan super kaya membuat komentar bodoh yang mengisyaratkan bahwa dia dan Cinta bisa bermesraan?
Tidak mungkin. Cowok seperti itu bahkan tidak akan melihat dua kali pada pecundang sepertiku.
Noni dan Dini mengagumi lukisan-lukisan itu sebentar, tetapi Cinta terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk memperhatikan pembicaraan itu. Bagian yang paling memalukan dari seluruh kejadian dua detik itu adalah dia tidak bisa berhenti membayangkan Adam.
Bermesraan dengannya
Menyelinap tengah malam, mencari sofa yang tersembunyi dalam kegelapan. Merangkak ke pangkuannya. Ya, seolah-olah cowok seperti dia akan pernah mempertimbangkan untuk berkencan denganku, pikir Cinta. Tetapi kurasa dia tidak mengucapkan kata ‘berkencan’. Yang dia maksud hanyalah hubungan intim.
Cinta bukannya tidak pernah berciuman dengan cowok. Taapi ciuman yang tidak disengaja dan tidak pernah ada yang mendekati hubungan pacaran sebenarnya.
Berkencan dengan Adam?
Dia merasa darahku berdesir di pipi hanya dengan memikirkannya. Untuk apa dia memikirkan kata itu?
Aku tidak pernah berkencan seumur hidupku, pikirnya lagi.
Kecuali kalau ketika Dini bertemu dengan seorang pria yang mengajak mereka berdua makan malam karena Cinta berusia tiga belas tahun dan mamanya tidak ingin meninggalkan dia sendirian. Dini berpikir sangat romantis bahwa pria ini mengizinkan Cinta ikut, seolah-olah dia sudah menjadi ayah tiri atau semacamnya.
Setelah kencan itu, dia berhubungan dengan Dini, lalu karena Cinta tidur di kamar sebelah, dia mencoba melakukan hal yang sama pada Cinta. Cinta melemparkan lampu kamar hotel melati ke wajahnya dan pria itu berlari keluar dari sana, mengumpat dan meneteskan darah ke mana-mana.
Cinta menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya. Begitu salah satu dari pikiran itu menyelinap ke alam bawah sadarnya, pikiran-pikiran lain akan selalu mengikuti. Dan ini adalah hari yang baik, dengan tempat yang luar biasa untuk tidur malam ini jadi dia menolak untuk membiarkan pikiran-pikiran buruk menghaantuinya.
“Kurasa kita harus kembali,” kata Noni sambil menguap. “Sudah cukup larut.”
Mereka berkendara kembali ke rumah Noni dan Dini melemparkan kunci mobilnya kepada Cinta, menyuruh putrinya mengambil koper dari bagasi.
Ketika Cinta berjalan kembali ke rumah sambil menenteng koper Samsonite yang sudah usang, Dini mengacungkan jarinya seolah-olah dia baru saja mengingat sesuatu.
“Sayang, kenapa kamu tidak mengambil tasmu juga? Dengan begitu tasmu tidak akan berantakan.”
Cinta mengerutkan kening.
Noni menawarkan Dini untuk mengisi ulang gelas anggurnya dan Cinta berbalik, kembali ke bagasi. Dini dan Cinta masing-masing memiliki koper dan tas ransel. Koper untuk pakaian dan perlengkapan hidup, sementara tas ransel berisi semua barang pribadi. Tidak banyak.
Tas Dini berisi tabletnya dan semua dokumen bisnisnya beserta beberapa pernak-pernik yang dibuat Cinta untuknya ketika masih kecil. Lonceng angin dan pernak-pernik pameran kerajinan tangan diletakkan di jok belakang SUV.
Tas Cinta berisi boneka beruang dari masa kecilnya, beberapa pasang sandal, dua botol cat kuku, tablet untuk mengakses internet, dan setumpuk DVD untuk ditonton di laptop Dini.
Cinta tidak tahu mengapa saya memerlukan semua itu untuk menginap satu malam di rumah orang asing, tetapi dia mengambil tas ranselnya dan membawanya ke kamar tamu.
Dari ruang tamu, mamanya memanggil namanya.
Cinta menyelinap ke lorong dan berlari menuruni tangga. Tangannya meluncur di sepanjang pegangan tangga seolah-olah sudah menjadi kebiasaannya sehari-hariSebuah gambaran sekilas muncul di benaknya, lamunan menjadi seorang gadis remaja yang tinggal di rumah seperti ini dengan orang tua yang penyayang. Seorang gadis yang kamarnya dipenuhi dengan pakaian, teman, dan kenangan.
“Kamu akan pergi?” tanya Cinta ketika kakinya menginjak lantai pertama.
Mamanya mengangguk.
“Akan kembali ke hotel untuk tidur beberapa jam. Setelahnya aku akan berangkat dan sampai di sana sebelum tengah hari.”
Cinta melihat sekeliling ruangan dan menyadari bahwa Noni dan Bakri sudah tak ada.
“Apakah kamu sudah memberi tahu mereka bahwa kamu akan pergi?” tanya Cinta.
Mamanya mengangguk, memeriksa rambutnya yang bercabang. “Mereka pergi untuk menyelidiki suara aneh di panggangan atau semacamnya. Sekarang kemari, peluk aku.”











