“Kau ingat tebing tepi danau yang berada dekat Lembah Patah Hati?”
Christian Kelvin mengangguk.
“Kita ke sana sekarang, karena aku masih tersinggung atas penamaan pengarangnya terhadap tebing tersebut. Masak berani-beraninya dia memberi nama tebing itu dengan ‘Tebing Jomblo Berjoget’, disangkanya kita-kita yang lagi single ini topeng monyet, apa?” geram Desol.
***
Bay merasa kelopak matanya seperti diganduli besi seberat ribuan kati, tapi ia memaksa untuk memicingkannya. Tubuhnya terasa amat lemas, dengan tulang yang seperti bergeloseran di seluruh tubuh.
Entah berapa lama waktu berlalu, ketika akhirnya Bay berhasil membuka matanya. Ingatan pertamanya langsung tertuju pada Na, bersamaan dengan keluhan kecil tak jauh di sampingnya.
Susah-payah Bay menolehkan kepala. Hatinya langsung mencelos melihat Na tergeletak sama mengenaskan seperti dirinya.
Susah payah Bay mencoba bangkit, tapi tak berhasil.
“Kau jangan mati, Na…” ucap Bay dengan suara yang amat lirih melebihi dengung nyamuk saking tiadanya tenaga. Tangannya menggapai-gapai ke arah Na, yang tersenyum pias tanpa bisa melakukan apapun.
“Kau jangan mati, Na…” ulang Bay, tapi kini tanpa suara suara sama sekali. Tangannya berhasil meraih tangan Na, yang langsung digenggamnya dengan amat erat.
“Kau jangan mati, Na…” kali ini Bay hanya sanggup mengatakannya lewat tatap mata, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
***
Gua Kalimantan, Waktu Indonesia Bagian Lari-lari.
“Dari mana Mbak Hanny tahu saya di sini?” tanya Aldy kepada Hanny. Sebagai mantan pemimpin sebuah Pang, kepandaiannya memang tak bisa disamakan dengan anak kemarin sore yang baru paham seucap tapi gemar mengumbar omong-kosong berbuku-buku layaknya Trio Warkop DPR. Luka dalamnya membaik dengan amat cepat.
Belum lagi Hanny menjawab, Aldy telah kembali bertanya, “Mbak Hanny punya kopi, enggak? Dah sejak pertarungan sama Duo Tengik Desol dan Pebri kemarin saya belum ngopi, bikin hidup saya jadi agak hambar. Mana anggota Pang Kehutanan saya diberangus semua pulak, sedih deh…”
Tapi sebelum curcol Aldy semakin seru, Hanny langsung menjawab agak jutek, “Mas Aldy bagaimana sih, kayak orang benar aja. Masak sempat-sempatnya nanya saya bawa kopi apa enggak? Emangnya saya Kompasianer yang kurang kerjaan apa? Mas Aldy mestinya paham donk, kalo saya ini terburu-buru datang kemari, murni demi menolong Mas Al? Boro-boro ingat kopi segala macam. Eh, tapi tahu enggak Mas Al, saya ke sini naik Sukhoi, loh… Bahkan sempat terjun bebas dari ketinggian 17.000 meter dan menari di udara dengan ilmu cantik warisan leluhur. Mmmh… saya hebat kan…?” celoteh Hanny riuh melebihi segerombolan bebek yang berisik memperebutkan dedak seduh, membuat Aldy menggaruk kepalanya yang mendadak gatal karena alih-alih mendapat kopi, justru malah di cap sebagai orang yang agak waras karena minta yang aneh-aneh.
Ternyata keinginan untuk menikmati hal sederhana seperti secangkir kopipun dapat membuat dirinya dicela orang, entah bagaimana pula reaksi yang akan dia terima jika misalnya menginginkan banyak hal yang bukan sekedar kopi. Kemerdekaan sejati, misalnya. Atau pemberantasan kemiskinan serta negeri yang bebas dari asap kebakaran hutan. Akankah dirinya langsung berakhir dipenjara? Atau seketika menyusul takdir Salim Kancil, hanya karena mencoba menyuarakan hak dan kebenaran? Ah…
Baru saja Aldy ingin meminta maaf, ketika Hanny mendadak tersenyum, membuatnya curiga jangan-jangan Hanny ini adalah salah satu anggota Planet Kenthir yang postingannya banyak beredar di kolom sembarang.
“Tapi saya bawa es dawet… Asli buatan Mbok Sarungpaet yang terkenal buah cocotannya yang cewakwakan tak karuan itu. Ayo kita nikmati bersama, Mas Al…” Hanny langsung membuka bungkusan yang tergantung di punggung dan memberi seplastik kecil es dawet kepada Aldy, membuat pendekar rimba ini langsung menepuk jidatnya keras-keras sambil berpikir, sebenarnya siapa yang ‘kayak orang benar’, sih?
“Waduh… saya lupa satu hal, Mas Al. Kita harus buru-buru pergi…!” teriak Hanny sambil melompat berdiri dan langsung menyeret Aldy berlari mengikutinya, membuat Aldy tersedak es dawet hingga kumis baplangnya belepotan potongan cendol kecil-kecil yang mirip uget-uget itu.
“Memangnya kita mau kemana Mbak Hanny?” tanya Aldy dag-dig-dug karena tangannya terus digenggam Hanny sambil berlari. Rasanya hangat-hangat gimanaaa… gitu, jadi bikin deg-deg serrr…!
“Mencari kakek,” jawab Hanny singkat, membuat angan yang sempat memenuhi benak Aldy langsung ambrol tak tersisa.
“Memangnya saya tak cukup keren Mbak Hanny, hingga Mbak Hanny masih harus mencari kakek-kakek untuk menemani?” polos Aldy sambil memilin-milin kumisnya dengan gaya yang mirip Ki Demang atau Tuan Takur di film India.
Hanny memandang Aldy dengan gemas. Dicubitnya tangan Aldy yang masih digenggam, untuk kemudian berlari secepat terbang menggunakan ginkang.
“Kakek saya menyuruh untuk segera menyusul ke Jogja setelah urusan di sini beres. Dengar-dengar ada satu orang lagi yang terluka berat di Marboyo atau Markotop atau entah apa,” jelas Hanny tanpa mengurangi kecepatan ginkangnya.
“Ooh… ternyata kakek Mbak Hanny … Tapi di Jogja tak ada nama daerah seperti itu. Apa bukannya Malioboro, Mbak Hanny?” ucap Aldy, setelah agak ngos-ngosan mengimbangi Hanna Chandra. Vitalitasnya akhir-akhir ini memang agak melemah. Apalagi setelah meladeni Desol kemarin. Langsung terserang 7 L alias Letih, Lemah, Lesu, Loyo, letoy, lunglai serta L terakhir yang sepertinya lagu sedih nan merintih berbunyi Laa… lelooo… leloolelaalelooooo…
(Pembaca: Psssttt…! Paragraf yang ini kenapa rada-rada berbau habul sih, Bay? Mana Si Hanny tiap kali keluar di cerita disuruhlelarian memulu, emangnya enggak kasihan?
Saya: Hussttt…! Jangan pake ngeres dong bacanya… Itu kan adegan lari berjamaah, juga adegan bareng Desol yang murni pertempuran maut antara Pang Kehutanan v.s. Duo Pendekar Belati Hawa Nafsu, haha).
Dengan tabahnya Hanny melakoni peran yang selalu lari-lari tak karuan di cersil ini, yang kelak akan kembali berlari sebab Bay tak ada lagi di Malioboro, dan mungkin saja lagi-lagi harus berlari, ketika menyusul Bay ke tebing tempat tinggal Pendekar Pedang Hujan, yang siapa tahu akan berlari lagi karena Bay -bisa saja- dipindahkan oleh si pengarang cersil agar tidak lagi berada di Tebing Jomblo Berjoget tempat tinggal Na tersebut.
Kelak dunia persilatan digegerkan oleh cerita legenda yang agak musykil, tentang kisah pendekar yang terus berlari tanpa henti, yang entah mengejar jodoh atau justru malah dikejar rentenir.









