Home / Genre / Chicklit / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 15

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 15

CINTA KEDUA & TERAKHIR
2
This entry is part 16 of 60 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Semenjak setahun belakangan, Pazel sering mengabaikan istrinya. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama Rima.

Badannya yang semakin kurus menambah rasa bosan di hati Pazel.

Pazel yang sedang melamun dikagetkan oleh teriakan ibunya.

“Aaaaaah! Aduh, sakit.”

Seketika Pazel berlari ke arah sumber suara. Sumber suara itu datang dari kamar ibunya. Diketoknya kamar ibunya.

“Ada apa, Bu? Buka pintunya.”

Karena tidak ada sahutan Pazel berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar yang di tempati ibunya. Dia mengarahkan pandangan ke seluruh sudut kamar, tak dilihatnya ibunya. Lalu terdengar suara rintihan kesakitan dari arah kamar mandi. Segera Pazel berlari ke sana. Ternyata ibunya sedang meringis kesakitan karena terpeleset. Pazel segera memapah ibunya yang masih mengenakan handuk itu.

“Ibu. Kenapa Ibu bisa jatuh? Ibu harus hati-hati kalau jalan.”

Dia menggendong ibunya ke tempat tidur.

“Kaki Ibu sakit banget, Zel. Mungkin Ibu keseleo.”

“Aku akan telepon tukang urut. Ibu berpakaianlah dulu. Aku turun ya, Bu?”

“Iya. Sekalian telepon Rima, suruh dia bantu ibu beresin rumah. Kaki Ibu kan lagi sakit. Dia kan calon menantu Ibu, jadi dia harus belajar mengurus rumah tangga dari sekarang.”

Pazel yang mau melangkahkan kakinya ke arah pintu, kembali menoleh ke arah ibunya.

“Bu, dia kan lagi hamil, mana bisa dia melakukan pekerjaan rumah?”

“Halah, dulu waktu ibu hamil kamu, ibu juga melakukan semua pekerjaan rumah. Kalau dia tidak mau, berarti dia yang malas.”

Setelah bicara dia kembali meringis kesakitan.

Pazel turun ke lantai bawah mengambil ponsel yang tertinggal di atas meja.

Setelah menelepon tukang urut, Pazel menelepon Rima seperti apa yang diperintah ibunya.

Sebenarnya dia agak berat hati untuk menelepon Rima. Dia tahu watak Rima yang tidak mau dimanfaatkan orang lain.

Dia itu keras kepala. Bahkan Pazel sadar kalau Rima menerimanya sekarang karena Pazel sudah bekerja. Dulu waktu dia pengangguran, wanita itu pergi meninggalkan dia dengan laki-laki lain.

“Haloo,” terdengar suara lembut Rima dari seberang sana.

“Ya, Sayang. Apa kamu bisa datang kesini?”

“Uum, kangen, ya? Baru sehari gak ketemu, Bang.”

“Iya, kamu ke sini ya? Aku tunggu.”

Pazel menutup panggilan teleponnya.

Tidak berapa lama, terdengar bunyi bel, segera Pazel membuka pintu. Ternyata tukang urut yang datang.

“Mari, Bu. Silakan masuk,” ucap Pazel mempersilakan tukang urut tersebut untuk masuk. Tukang urut itu seorang perempuan gemuk berumur sekitar empat puluh lima tahun lebih kurang.

“Siapa yang mau di urut? “ tanya tukang urut tersebut. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Mungkin masih ada pasien lain yang antre. Zaman sekarang tukang urut sudah seperti seorang dokter saja lagunya.

“Ibu saya, Bu. Beliau terpeleset di kamar mandi. Langsung saja ke atas Bu,” ajak Pazel kepada tukang urut tersebut.

“Permisi, Bu. Kaki yang sebelah mana yang sakit?” tanya tukang urut tersebut setelah berada di ranjang Bu Rohana.

“Ini.” Bu Rohana menunjuk kaki sebelah kirinya.

“Saya urut ya, Bu? Ini mungkin agak sakit. Ibu harus tahan, ya?”

Tukang urut itu mulai melumuri kaki Bu Rohana dengan minyak yang dibawanya dari rumah.

Rasa dingin mulai terasa di kaki Bu Rohana yang tadinya terasa nyeri. Tukang urut itu mulai memijit kakinya dengan lembut. Pada detik berikutnya Bu Rohana dikagetkan oleh rasa sakit yang tiba-tiba, diikuti dengan suara krak dari kakinya.

Teriakan Bu Rohana menggema di ruangan itu.

“Aaaa! Sakit!”

“Sudah selesai, Bu,” ucap tukang urut itu sambil menutup botol minyaknya.

“Apa masih di ulang lagi urutnya, Bu?” tanya Pazel kepada tukang urut yang sudah bersiap untuk pergi itu.

“Kalau mau diulang, boleh saja, tapi tunggu sampai dua hari. Ini juga sudah sembuh, kok. Tapi jangan dipaksakan dulu kakinya. Jalannya pelan-pelan saja dulu.”

“Terima kasih banyak ya, Bu?” ucap Pazel sambil menyerahkan uang seratus ribu ke tangan tukang urut itu.

“Iya, sama-sama, Nak. Saya permisi dulu Ibu, Bapak,” ucap tukang urut itu ramah.

“Pazel mengantar Bu Ita dulu ya, Bu?” ucap Pazel kepada ibunya sambil berlalu mengantar tukang urut yang bernama Bu Ita tersebut.

Saat Pazel membuka pintu, ternyata di depan pintu sudah ada seorang wanita cantik yang menunggu untuk di bukakan pintu.

“Rima? Kamu sudah di sini?” tanya Pazel setelah tukang urut itu pergi.

“Iya, Bang. Baru saja sampai. Itu tadi siapa, Bang?”

“Oh, itu tukang urut. Kaki Ibu keseleo, jadi Abang telepon tukang urut. Ayo masuk,” ajak Pazel.

Rima menggandeng tangan Pazel.

“Kita langsung ke atas ya, Sayang.”

“Iya, Bang.”

Saat masuk, Rima memperhatikan seluruh sudut rumah Pazel yang tampak berantakan. Sangat berbeda sekali dengan saat dia pertama ke sini. Tepatnya saat Silvia masih ada di rumah ini.

Apa cuma Silvia yang melakukan semua pekerjaan rumah? Jika rumah ini dibersihkan oleh Silvia, berarti kalau aku menjadi menantu rumah ini, aku juga yang akan merawat rumah ini! Ogah banget aku dijadikan babu oleh suami dan mertuaku. Yang ada, aku yang akan mengatur mereka, batin Rima.

Sesampainya di atas, mereka langsung masuk ke kamar perempuan yang tengah duduk di atas ranjang dengan sebuah telepon genggamnya. Rima langsung mendekat dan bersikap manis kepada calon mertuanya.

Dia memeluk wanita itu setelah meletakkan bingkisan yang ia bawa untuk mengambil hati calon mertuanya.

“Ibu. Lihat aku bawa baju keluaran terbaru untuk Ibu,” ucap Rima sambil menyerahkan bingkisan yang tadi sempat ia letakkan di atas tempat tidur.

“Semoga Ibu suka,” ucapnya lagi.

Sudah tentu dia akan suka, karena dia memang menyukai hadiah apa pun yang akan diberikan untuknya.

“Wah, terima kasih, Sayang. Kamu memang calon menantu Ibu yang baik. Sudah cantik, baik lagi.”

Melihat hadiah yang dibawa oleh Rima, dia melupakan tujuan awal dia menyuruh Rima untuk datang ke rumahnya.

Rima tersipu malu mendapatkan pujian seperti itu. Dalam hatinya berkata lain. Dasar wanita serakah, baru saja di kasih baju murah sudah kelepek-kelepek.

“Oya, Bu. Ini juga ada makanan. Nasi sama ayam panggang. Ibu sudah makan belum? Jangan lupa dimakan nanti ya, Bu? Sengaja nasi sama sambalnya aku pisah, biar tidak cepat basi!”

“Waaah, Nasi sama ayam panggang. Makanan kesukaan Ibu sama Pazel. Kamu ini benar-benar calon mantu kesayangan Ibu.”

“Zel, kapan kamu mau jadikan Rima menantu Ibu?” Wanita itu melihat ke arah Pazel.

“Iya, Bu. Surat cerai aku dengan Silvia belum keluar, aku mau tunggu surat ceraiku keluar dulu.”

“Kamu sudah urus belum? Kalau kelamaan, perut Rima akan semakin membesar.”

Ting tong!

Terdengar suara bel berbunyi.

Pazel berinisiatif untuk membuka pintu. Dia segera turun ke bawah setelah meminta izin dari ibu dan kekasihnya.

Saat pintu terbuka, betapa terperangahnya Pazel melihat orang yang ada di depan pintu. Dia sungguh tidak menyangka orang itu akan datang ke rumahnya.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 14 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 16

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image