Home / Genre / Teenlit / 2. Mengumpulkan Makanan yang Tersisa

2. Mengumpulkan Makanan yang Tersisa

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
1
This entry is part 3 of 27 in the series Percayalah Padaku Cinta

Setelah beberapa kali berurusan dengan yang berwenang karena Cinta bolos sekolah, Dini harus setuju untuk tidak memindahkan putrinya dari satu sekolah ke sekolah lain setidaknya selama satu semester masa sekolah. Enam bulan terakhir dihabiskan di Kota Surabaya. Namun, sekarang sudah liburan kenaikan kelas. Siapa yang tahu berapa banyak tempat lagi yang akan Cinta dan mamanya yang akan mereka tinggali. Dini adalah seorang pengembara dan Cinta harus selalu ikut ke mana pun Dini pergi.

Sebagian diri Cinta sudah tak sabar lagi menunggu tamat SMA, sehingga kalaupun dia belum bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, dia dapat bekerja dan lepas dari gaya hidup nomaden mamanya, menetap di suatu tempat untuk memulai kehidupannya sendiri yang sebenarnya.

Sebagian dirinya yang lain takut hidup tanpa Dini. Tidak ada rumah di dunia ini yang bisa dia sebut sebagai rumah. Hanya ada Dini dan dia, dan itu membuat Dini menjadi rumahnya.

Sekitar pukul empat lewat empat puluh lima sore, Dini melepaskan diri dari kelompok orang-orang yang mengobrol dengannya dan melingkarkan lengan di bahu Cinta. Selusin gelang emas imitasi di pergelangan tangan Dini berdenting di punggung Cinta.

“Ambil salah satu tas kainku dari bawah meja,” bisiknya. Napasnya berbau seperti permen karet mint yang dia dapatkan dari pria pemilik sapi bertopi koboi tadi.

“Lihatlah apakah ada sisa makanan di tenda panitia dan ambil sebanyak mungkin.”

Cinta mengangguk. Pameran kerajinan UMKM yang diselenggarakan pemerintah kabupaten ini menyediakan makanan ringan untuk para pengunjung dan nasi kotak untuk makan siang penjual kerajinan.

Cinta makan empat roti lapis mini berisi daging dan mayones serta dua kantong keripik pisang. Itu adalah makan siang terlezat yang pernah dia makan selama ini dan perutnya masih sakit karena kekenyangan. Nasi kotak sudah disimpan untuk bekal makan malam nanti. Kalau di tenda panitia masih ada yang tersisa, ini akan menjadi hari yang luar biasa.

Tenda panitia pameran kosong ketika Cinta masuk, kecuali sepasang manekin memakai pakaian daerah yang berdiri tegak di tengah. Kedua manekin itu setinggi Cinta, ekspresinya agak menakutkan untuk dilihat.

Cinta membuka tas jinjing kain yang dibawanya dan berjalan ke meja makan, mengambil kertas tisu dan mengisinya dengan sisa roti lapis. Satu-satunya kantong keripik yang tersisa adalah yang rasanya tidak enak dan camilan rendah kalori yang sehat, tetapi dia tetap mengmbilnya.

Terdengar langkah kaki di belakangnya, membuatnya terlonjak kaget. Tapi dia berusaha terlihat santai. Dia tidak akan ditangkap karena mencuri camilan yang tersisa, bukan?

“Kenapa lama sekali?” kata mamanya, bergegas menghampirinya. Cinta mengembuskan napas yang sedari tadi ditahannya, lega sekali bahwa penyusup itu ternyata mamanya sendiri. Dia menunjukkan isi tas itu pada Dini.

“Kita punya banyak makanan,” kata Cinta sambil menyeringai.

Mamanya mengerutkan kening. Ujung alisnya yang dihitamkan dengan pensil alis mulai memudar karena panasnya hari.

“Cinta, kamu mau makan untuk sisa minggu ini atau hanya untuk malam ini?” Dini menunjuk ke tumpukan kotak berisi nasi Padang lauk telur dadar berenda di ujung meja. “Ambil kotak itu, Sayang.”

“Aku tidak mau mengambil semuanya,” kata Cinta. Pipinya terasa hangat karena malu. Mungkin karena sepasang manekin sedang mengamatinya dan dia mencuri makanan tepat di hadapan mereka.

“Jaga-jaga di pintu kalau ada yang datang,” kata Dini, sambil mengambil lagi roti yang tersisa dan empat kotak nasi Padang, lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Makanan ini gratis, jadi ambillah. Penyelenggara suka memberi makan orang miskin dan sebagainya, dan sayang, kita ini orang miskin.”

Cinta menghembuskan napas panjang dan meraih dua botol air mineral terakhir, lalu memasukkannya ke dalam tasnya

Ketika mereka  hendak pergi, seorang wanita melangkah masuk ke dalam tenda. Dini terus berjalan, tetapi Cinta tidak sengaja berhenti. Kaget melihat seseorang yang cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka membuat dia lumpuh sementara.

“Oh, halo,” kata wanita itu. Dia tampak cukup ramah, mungkin seusia Dini.

Dia melirik meja makanan yang kosong lalu tersenyum sopan kepada mereka. Dini mendesis memanggil nama putrinya, ingin Cinta buru-buru bergegas, dan kaki Cinta akhirnya bisa bergerak.

“Tunggu!” kata wanita itu.

Jantung Cinta berdegup kencang.

Dini berbalik, gaunnya yang berwarna-warni bergoyang-goyang di sekitar kakinya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

Wanita itu mengangguk.

“Kamu yang yang menjual lonceng angin, kan?” Dia meletakkan tangan di dadanya. “Lonceng-lonceng itu sangat indah. Aku tahu pameran kerajinan akan segera tutup, tetapi apakah kamu masih buka? Aku berharap bisa mampir dan membelinya.”

Dini berseri-seri, sikapnya berubah dari defensif menjadi ramah dalam waktu setengah detik.

“Tentu, tentu. Ikutlah denganku. Namaku Dini Chan dan aku senimannya.”

“Noni Bakri,” kata wanita itu, menjabat tangan Dini. “Aku mengelola pameran kerajinan ini dan aku ingat melihat pendaftaranmu secara online waktu kamu mendaftar. Aku sudah ingin datang untuk mendapatkan lonceng angin sepanjang hari, tetapi,” dia menggelengkan kepala dan menghela napas. “Hari ini benar-benar sibuk. Aku tidak tahu menjalankan acara ini akan sesulit ini.”

“Wah, kamu melakukan pekerjaan yang luar biasa,” kata Dini, menuntunnya kembali ke tempat parkir menuju stan mereka.

Kedua wanita itu terus berbicara, dan Cinta mulai bertanya-tanya apakah wanita itu mendengar percakapan mereka tentang makanan atau tidak. Kalau ya, wanita itu bersikap baik dengan tidak mengatakan apa pun. Namun, Cinta merasa, begitu orang menjadi dewasa, mereka tidak akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengolok-olok sorang lain karena miskin seperti yang dilakukan anak-anak di sekolahnya dulu.

Noni Bakri dan Dini berbicara selama lima belas menit, dan Dini menunjukkan pesonanya pada wanita itu. Tak lama kemudian, mereka tertawa dan bercanda seolah-olah mereka adalah teman lama. Cinta iri dengan kemampuan bawaan Dini untuk menjalin ikatan dengan siapa saja. Itu hal lain yang tidak pernah dia warisi dari mamanya.

“Begini,” kata Noni Bakri, mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Cinta melihat cincin kawin berlian besar di jarinya dan bertanya-tanya apa yang dilakukannya untuk memastikan tidak berakhir sebagai perawan tua.

“Aku tahu kita baru saja bertemu dan ini mungkin sedikit berlebihan, tetapi aku suka sekali karya senimu, Din. Dan, aku ingin mengundang kalian berduaa untuk makan malam di rumahku malam ini.”

Noni tersenyum lebar dan menggigit bibir.

“Aku tinggal di pinggir kota, suamiku membuat burger. Ada banyak yang bisa dibagikan dan aku ingin mendengar lebih banyak tentang pengerjaan membungkus kaca dengan kawat. Bagaimana menurutmu?”

Dini menatap putrinya dan Cinta mengangkat bahu. Cinta seharusnya mengangguk karena burger dan sisa makanan dalam satu hari tidak pernah terjadi. Mereka mengatakan orang Jawa Timur ramah-ramah dan murah hati, dan dari apa yang dia lihat, jumlah makanan gratis memang melimpah.

“Tentu saja, Noni,” kata Ibu, mengulurkan tangan dan meraih tangan Noni. “Kami akan senang sekali, bukan begitu, Cinta?”

Cinta mengangguk, memikirkan bisa menjauh beberapa jam dari kamar motel mereka yang lembap dan bau apek membuatnya lebih bahagia daripada yang pernah dia rasakan selama berbulan-bulan.

“Ya, aku ingin burger.”

“Bagus!” kata Noni. “Ayo, aku akan membantu kalian membereskan lapak kalian.”

Percayalah Padaku Cinta

. Perkenalkan, Cinta . Trek Balap
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image