Home / Topik / Kampung Tulung, Sebuah Saksi Bisu Sejarah

Kampung Tulung, Sebuah Saksi Bisu Sejarah

Kampung Tulung, Kampung Bersejarah di Kota Magelang (timesindonesia.co.id)
1

Bagi mahasiswa Universitas Tidar, perguruan tinggi kebanggaan kota Magelang yang terletak di kelurahan Potrobangsan, jika hendak menuju ke kota, bisa melewati jalan sepanjang aliran Kali Kota, yang merupakan anak Sungai Progo. Sungai ini juga merupakan terusan Kali Bening yang memiliki peran penting dalam sejarah tragedi yang terjadi di kampung tersebut.

Sejarah mencatat sebuah peristiwa pilu pernah terjadi di sebuah kampung di tengah Kota Magelang, puluhan nyawa gugur dalam tragedi pembantaian karena kesalahpahaman dan hasutan penjajah. Sejak awal kemerdekaan Indonesia, Kampung Tulung sudah menjadi basis pertahanan para Republikan melawan dekolonisasi Belanda.

Pada bulan Oktober 1945, ditetapkan sebuah kampung di Stadsgemeente atau Kotapraja Magelang bernama Kampung Tulung sebagai basis berkumpulnya para anggota BKR dalam mempertahankan kemerdekaan dari cengkeraman Sekutu yang diboncengi NICA. Situasi di Stadsgemeente Magelang waktu itu mulai memanas ketika tentara Inggris dan NICA masuk ke kota Magelang.

Ketegangan antara rakyat dan tentara sekutu bersama NICA ini akhirnya pecah menjadi sebuah perang terbuka di dalam Kota (Stadskreig). Setengah dari kekuatan tentara di Jawa Tengah pada waktu itu, ditarik dan dikumpulkan di kampung Tulung. Sebagai basis terdepan melawan sekutu, dibuatlah sebuah dapur umum sebagai pusat logistik tentara.

Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 28 Oktober 1945, tepat pukul 5 pagi, di bawah komando tembakan senapan Pak Ahmad Yani, serangan umum Magelang dimulai. Tembak menembak berlangsung selama 7 jam terjadi di lokasi-lokasi kedudukan NICA, seperti di Badaan Plein, Kader School, Zusteraan, dan Militaire Hospital.

Akhirnya pada pukul 11 siang, muncul bendera putih dari dalam basis pertahanan sekutu, tapi tak seorangpun keluar dari dalam gedung. Dari basis pertahanan sekutu, diam-diam mereka berhasil menghubungi pasukan gerak cepat tentara jepang (Kidobutai) di Semarang. Mereka menebar isu bahwa semua tawanan Jepang yang ada di Stadsgemeente Magelang dibunuh oleh pemuda-pemuda Magelang.

Tentara Kidobutai yang termakan hasutan tersebut bergerak cepat. Dalam waktu tak lebih dari dua jam, pasukan Kidobutai sudah tiba di Stadsgemeente Magelang. Mereka masuk dari arah Utara tepatnya di Payaman sekitar pukul 1 siang dengan 7 truk dan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama masuk melalui kota Magelang. Sedangkan kelompok kedua turun di pertigaan Tuguran kemudian melewati saluran air Kalibening, langsung menuju Kampung Tulung.

Meski sempat berhenti di kuburan Nglarangan karena dihadang tentara BKR bersama rakyat, akhirnya karena kalah dalam hal persenjataan, Pasukan Kidobutai berhasil membuat tentara BKR dan rakyat mundur ke arah Barat melintasi Kali Progo dan bertahan di desa Njlapan. Mereka yang tidak tahu menahu gerak laju pasukan Kidobutai di dapur umum menjadi korban serangan ganas tentara Jepang ini.

Sebenarnya rakyat yang berada di dapur umum sudah melihat kedatangan pasukan Kidobutai ini, tapi mereka mengira tentara ini adalah kawan seperjuangan mereka seperti beberapa tentara Jepang lain yang desersi dan berjuang bersama republik. Rakyat yang sedang memasak dan tentara BKR yang sedang berjaga dan beristirahat dikepung dari utara, barat, dan timur, dibrondong senjata api pasukan jepang.

Karena tidak ada persiapan dan tidak tahu apa yang terjadi, 16 rakyat jelata dan 26 anggota BKR gugur dalam serangan mendadak ini. Kegilaan ini baru berhenti setelah salah satu eks-tentara Jepang yang mengalami desersi dan menjadi Republiken bertemu dengan anggota Kidobutai. Tentara ini menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Lokasi bekas dapur umum tempat tragedi pembantaian terjadi, konon juga pernah didatangi Pak Ahmad Yani dan Bung Karno selama masa gencatan senjata November 1945. Dahsyatnya pertempuran di Magelang ini pernah diabadikan oleh seorang wartawan yang kebetulan berada dalam peristiwa Palagan Magelang. Kelak, Palagan Magelang menjadi pemicu pertempuran besar lainnya, yaitu Palagan Ambarawa.

Bekas dapur umum yang menjadi tempat tragedi kampung Tulung sekarang sudah menjadi rumah hunian milik ahli waris, yaitu ibu Dovian sekeluarga. Jika dilihat dari struktur rumah, bangunan rumah Ibu Dovian ini dulunya adalah sebuah pendopo Kantor Kelurahan. Dari tulisan angka yang terdapat pada salah satu tiang blandar rumah dapat diketahui bahwa pendopo kelurahan ini dibangun pada tahun 1930.

Menurut penuturan si empunya rumah, Ibu Dovian sendiri baru mengetahui pelataran depan rumah beliau adalah bekas makam para syuhada tragedi Kampung Tulung setelah beliau dewasa. Orang tua beliau tidak pernah menceritakan apa atau bagaimana yang sebenarnya terjadi dirumahnya pada tahun 1945. Dirumah beliau juga masih terdapat beberapa memorabilia bekas tragedi kampung Tulung. Menurut keterangan Ibu Dovian, terkadang beliau mendapati kejadian-kejadian ganjil dirumahnya tersebut. Seperti jendela yang suka membuka sendiri, bau anyir darah yang entah dari mana, dan lain sebagainya.

Warga Kampung Tulung dan Kampung Dukuh, kampung yang letaknya di sebelah Kampung Tulung yang meninggal tercatat 16 orang. Mereka adalah, Sopawiro, Lusi, Re Doeradjat, Atmoroto, Moechamad, Karso Pawiro, Safi’I, Imam Sjamsuri, Amat Dasinan, Karto Lichin Soemardjo, Seto, Aladin, dan Roesmin, sedangkan 26 anggota dari markas BKR tidak teridentifikasi namanya.

Para jenazah awalnya disemayamkan di halaman rumah Lurah Atmo Pawiro yang bernama Nyonya Suroyo. Sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan mereka membela bangsa, jasad para pejuang akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giriloyo Magelang.

Maka untuk mengenang tragedi pembantaian Dapur Umum di Kampung Tulung, dibangunlah sebuah monumen di pintu masuk kampung, tepatnya di Jl. Kapten Yahya No.174, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.

Magelang, kota dengan segala cerita, setiap sudutnya menyimpan saksi sejarah kemerdekaan Indonesia. Kampung Tulung yang terletak di perbatasan antara Kota Magelang dengan Kabupaten Magelang ini kini dikenang karena menyimpan cerita pahit perjuangan para pejuang kemerdekaan.

Meskipun memiliki sejarah kelam, tapi kehidupan masyarakat di Kampung Tulung sehari-hari tetap berlangsung dengan baik. Suasana pedesaan masih melekat kental dengan alam yang asri serta semangat kebersamaan masyarakatnya sangat kuat, menjadikan Kampung Tulung memiliki potensi sebagai destinasi wisata sejarah, di mana pengunjung dapat belajar tentang peristiwa masa lalu dan menghargai perjuangan para pahlawan.

Satu catatan yang perlu diketahui bahwa nama “Tulung” dalam konteks ini bukan merujuk pada makna “pertolongan” seperti pada beberapa daerah lain, tetapi lebih kepada sebuah kenangan sejarah kelam dan tragedi yang menjadikan Kampung Tulung sebagai saksi bisu perjuangan dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan.


Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image