Home / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 8

Cinde Lara: Bab 8

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 9 of 27 in the series Cinde Lara

“Ya Tuhan! Lihat dirimu, Nak!” teriak Zhoya.

Untuk sesaat Cinde terlalu bersemangat, dia bahkan tidak bisa melihat dirinya sendiri di kaca spion.

“Ayo!” teriak Zhoya, menariknya lebih dekat ke cermin dan saat itulah Cinde melihat wajahnya.

“Ya Tuhan!” serunya.

Dia telah berubah.

Zhoya selalu membawa peralatan makeup di mobil bapaknya, dan dengan peralatan yang komplet dia  make over Cinde yang tadinya belel, dan sekarang, wow! Cinde  bahkan tak bisa mengenali dirinya sendiri.

Bukannya dia belum pernah merias wajah sebelumnya, tapi dengan gaun putih berkibar dan sepatu kristal bening itu, dia bukan seorang putri. Dia tampak seperti bidadari yang turun dari helikopter.

“Sumpah, aku patahkan lehermu kalau kau nangis,” ancam Zhoya sambil tertawa.

Mereka berdua saling menatap, dan CInde melihat sepatu di kakinya. Sepatu itu melekat dengan nyaman di kulitnya, seolah tahu itu miliknya.

Tentu saja, siapa lagi?

“Sekarang, kau harus pergi ke kursi belakang dan angkat kepalamu macam Tatiana,” perintah Zhoya, membukakan pintu untuk Cinde supaya dia bisa pindah ke kursi belakang.

Cinde turun, mengambil gaun itu, lalu membuka pintu dan masuk ke kursi belakang.

“Siap berangkat?” tanya Cinde ketika Zhoya hendak menyalakan mesin.

“Yap. Yang perlu kau lakukan hanyalah bersikap dan berbicara seperti Tatiana, Madam,” jawab Zoya lalu menyalakan mesin.

**

Jun meletakkan teropongnya dan menghadap para preman itu.

“Gue mau lu pada nungguin dimari sementaro gue ngalingin sopir atawa siapa pun yang datang. Gitu gue liat  ada putri, gue telepon lu. Bunyi sekali, maju aja. Lu pada pura-pura kagak kenal gue.Pura-puranya kalian nyulik kita  duaan, oke?”

“Oke, Bos.” Salah satu pria bernama Janto menjawab.

“Bagus, bawa gue sama putri ke van kalian, tutup mata kita, dan bawa kita ke tempat yang sudah Sam siapin.”

“Oke, Bos. Cepatlah.” Kata Janto dan Jun meninggalkan para preman.

***

Para polisi melambaikan tangan, memaksa Zhoya menginjak rem.

Salah satu dari mereka berjalan mendekati mobil sementara yang lain mengawasi kendaraan lain yang datang. “Hei,” katanya dan Zhoya menurunkan jendela. Wajahnya dingin dan keras. Dia sama sekali tidak terlihat ramah, padahal dulu mereka bilang polisi adalah sahabat kita.

“Mana SIM dan STNK?” tanyanya dan Cinde hampir menutup hidung. Bau busuk yang keluar dari mulutnya sungguh menyengat. Matanya merah dan giginya bernoda nikotin dan kulit cabe.

“Hei, halo, Pak!” sapa Zhoya sesemangat mungkin.

“Ya,” katanya, menatap Cinde penuh selidik.

“Ini Putri Ayu Lady Tatiana, dan kami sedang menuju istana seperti yang kau tahu….”

“Turun sekarang!” teriak polisi itu, mengarahkan pistolnya ke arah CInde sementara pria satunya membukakan pintu pengemudi. Zhoya mengangkat tangannya dan Cinde melakukan hal yang sama. Putri atau bukan putri kalau ditodong pistol sama saja.

“Turun, kataku!” teriaknya lagi.

“Oke, tenanglah. Kasihanilah sang putri, kumohon.” kata Zhoya dan Cinde berharap dia berhenti mengatakan itu karena kedua pria itu sekarang tersenyum dan salah satu dari mereka menghampiri CInde. Dia memegang bahu pemeran utama. Tangannya dingin dan keras kapalan.

“Hei! Kamu tidak tahu rasa hormat yang seharusnya kamu tunjukkan kepada seorang putri!” Cinde berhasil berkata, tetapi sebuah tamparan keras membungkamnya.

Zhoya berteriak, tetapi dia dipaksa berlutut oleh pria itu.

“Hei, ke sini, kami mendapatkan sang putri, ke sini!” katanya melalui walkie-talkie-nya.

“Oke, kami sedang dalam perjalanan.” sebuah suara terdengar dari walkie-talkie.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Zhoya ketika mereka mulai menyeret kami berdua ke sisi kiri jalan.

“Hei, polisi! Apa yang terjadi di sini?”

Aku mendesah ketika mendengar suara itu dan orang-orang itu berbalik. Kami melihat seorang pemuda berjas dan celana panjang berjalan ke arah kami.

“Mengapa kalian tidak membiarkan sang putri pergi?” katanya, sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai memutar nomor.

Ketika dia melakukan ini, sebuah van tiba-tiba datang, menyerempetnya hingga pingsan, lalu van itu melaju begitu kencang. Cinde merasa tubuhnya dibungkus karung dan terlempar ke belakang van, sementara sosok lain terlempar bersamanya.

“Ya Tuhan! Zhoya!”

Sebelum Cinde sempat berlari menghampiri sahabatnya, dia merasakan sesuatu menghantam dan dia kehilangan kesadaran.

Zhoya bangkit dari aspal dan mengejar van yang telah membawa sahabatnya. Sambil mengejarnya, dia melewati SUV yang melaju melintas.

Sebuah ponsel iPhone terbaru tergeletak di pinggir jalan dan baru saja ada panggilan masuk sekali. Lalu terkunci sendiri.

SUV itu juga melewati ponsel ini.

“Ya Tuhan, aku tak percaya ini terjadi. Aku tak percaya aku akan pulang untuk menjemput gadis bodoh ini!” kata Tatiana sambil terus menelepon Cinde, tetapi setiap kali panggilan itu masuk ke pesan suara.

“Sialan!” dia mengumpat dan melemparkan ponselnya ke Syauki. Telepon itu mengenai tepat di belakang kepalanya dan Syauki menjerit kesakitan, menarik rem dengan sangat cepat.

“Apa itu untuk nona?” tanyanya, sambil berbalik.

“Aku tidak tahu, tapi aku marah! Seorang putri bisa melampiaskan amarahnya pada rakyatnya!” kata Tatiana dan mulai terisak, lalu ketika Syauki menyalakan mesin, dia menyadari sebuah mobil yang tak asing dengan penyok mengerikan di kap mesin.

“Berhenti,” katanya kepada Syauki yang segera menghentikan mobil.

Tatiana mengerutkan kening. Dia pernah melihat mobil ini sebelumnya di rumahnya. Tiba-tiba dia melihat tas cokelat berisi sepatunya.

“Ya Tuhan! Ya Tuhan!” teriaknya dan segera keluar dari mobil lalu berlari menuju mobil yang terparkir di tengah jalan dengan pintu terbuka.

Sopirnya mengikutinya.

Tatiana masuk dan menyadari mesin masih menyala dan bingung. Dia menemukan kaos kucel Cinde di jok belakang.

“Dia ada di sini,” katanya dan meraih tas itu, tetapi da tidak menemukan apa pun di dalamnya.

“Ya Tuhan! Di mana sepatuku?” teriaknya, berlari keluar mobil untuk memeriksa bagasi.

“Di mana Cinde?” tanya Syauki.

“Bagaimana kamu bisa bertanya tentang Cinde saat ini? Kamu tahu berapa harga sepatu itu? Ya Tuhan! Aku dirampok!” teriaknya dan melihat sebuah van datang.

“Oh, syukurlah! Orang-orang ini akan membantu kita!” Dia keluar dari mobil dan mulai melambaikan tangannya ke arah van yang datang.

“Mungkin mereka bisa membantu kita menangkap pencurinya.”

“Nona, kurasa ini bukan ide bagus.”

“Diam! Kamu tahu apa?”

**

Mobil van yang datang adalah mobil berisi anak buah Jun.

Para preman di dalam van melihat sekeliling mencari tanda-tanda keberadaan bos mereka.

“Aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa melihat sang putri,” kata Janto kepada rekannya.

“Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat, kita tidak perlu menunggu, ayo kita tangkap sang putri.”

Janto menginjak rem saat mereka melihat seorang wanita berlari ke arah mereka sementara prianya tetap di belakang.

Orang pintar.

“Oh, terima kasih, abang-abang. Penjahat telah menculik pelayan dan sepatu saya.” Tatiana berteriak kepada mereka.

Janto menurunkan kaca matanya.

“Ya, kami sebenarnya sedang dalam perjalanan untuk menemukan penjahat itu sendiri,” jawabnya.

Tatiana tersenyum, “Oh, syukurlah, apa kalian keberatan kalau saya ikut? Saya kan calon putri, dan saya akan membayar kalian segera setelah sepatu saya kembali.”

“Dan pelayanmu?”

“Dia tidak penting,” jawab Tatiana.

“Bagaimana dengan orang itu?” tanya Janto sambil menunjuk Syauki.

“Oh, dia juga tidak penting.”

“Bagus.” kata Janto, lalu dia mengeluarkan pistol dan menembak Syauki dengan tiba-tiba. Syauki pun jatuh mendelosor ke tanah. Sebelum Tatiana menyadarinya, sesuatu menyengat lengannya dan dia kehilangan kesadaran.

“Kurasa kaulah satu-satunya yang penting,” kata Janto sebelum van meluncur pergi.

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 7 Cinde Lara: Bab 9

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image