Belum lama ini penulis membaca berita mengenai pasangan olahragawan-selebriti internasional yang mengunggah foto close-up tangan-tangan mereka berdua berpegangan, mengenakan jam tangan mewah, cincin emas bermata berlian, dengan latar belakang setir kendaraan mewah. Nilai semua barang yang mereka kenakan konon mencapai sekian puluh miliaran Rupiah. Sebuah pencapaian yang mungkin ‘wajar’ bagi segelintir orang, namun hanya isapan jempol, sebuah impian belaka bagi sangat banyak manusia.
Beberapa dari kita mungkin menganggap hal ini wajar saja, ‘toh mereka sudah bekerja keras untuk itu. Akan tetapi, apapun latar belakang/alasan pasangan tersebut, postingan demikian rentan mendatangkan rasa iri, sedih, minder hingga tuduhan-tuduhan ‘ah, tadinya dia siapa’, atau, ‘dia seperti kacang lupa pada kulitnya!’.
Apabila kita baru saja diberkati Tuhan dengan kesuksesan, misalnya mendapatkan bagian warisan, menang undian berhadiah, dianugerahi kenaikan jabatan dan sebagainya, kita rentan sekali tergoda untuk pamer. Apakah pamer itu diizinkan Tuhan?
Banyak tokoh dalam Alkitab juga ‘pamer’, misalnya Raja Salomo memperlihatkan kemegahan istana-Bait Allah kepada Ratu Syeba dan tamu-tamunya yang lain. Tidak hanya hikmat, Tuhan juga mengaruniakan berkat berlimpah sehingga Salomo sangat kaya-raya. Jadi, apa yang sebaiknya kita sadari dan lakukan apabila mendadak jadi ‘Salomo kecil’?
- Berkat yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Kita hanya dipercayakan-Nya. Semua yang ada yang ada pada kita, meskipun kita telah mengusahakannya (bekerja keras, mengolah, mengkreasikan dari nol sekalipun), tidak akan dapat kita nikmati secara utuh apabila Dia tidak mengizinkan-Nya.
- Berkat yang ada pada kita bukan bak durian runtuh yang sepenuhnya adalah hak/privilege kita, bisa digunakan suka-suka, melainkan sebuah tanggung jawab. Apabila kita gagal mengelolanya, dengan mudah kita akan gampang kehilangan.
Bahkan berkat yang bukan harta-benda juga harus kita doakan setiap hari. Pasangan, anak-anak, cucu, semua anggota keluarga kita patutlah kita percayakan ke dalam tangan Tuhan. Kita tak bisa selalu mengawasi mereka, hanya Tuhan yang selalu hadir di sisi mereka. - Banyak orang ingin lebih banyak berkat-rezeki. Rumah besar, kendaraan mewah, pekerjaan bergaji besar, viral-terkenal. Sadarilah jika lebih banyak diberkati bukan lantas berarti otomatis ‘aman’, justru saat kita diberikan kesuksesan, lebih banyak talenta hingga kelimpahan (harta), di sanalah iman sangat diuji. Seperti halnya Ayub, yang kekayaan hingga anggota keluarganya diambil Tuhan. Ayub tidak bersalah, juga bukan karena dosa orang tuanya, akan tetapi Tuhan sedang mengujinya. Ayub akhirnya berhasil lulus dari ujian yang sangat sukar itu, segala hartanya dikembalikan Tuhan (atau lebih tepatnya dikaruniakan kembali) berkali-kali lipat, termasuk mendapat ‘anggota keluarga baru’.
Kisah hidup kita berbeda-beda, belum tentu semua happy ending seperti Ayub. Kita juga belum tentu bisa sekuat-setegar seorang Ayub. Akan tetapi kita bisa meneladani ketaatannya, kesabarannya, sambil tetap berproses agar semakin mengenal Tuhan saat sebuah kehilangan ‘tanpa sengaja’ melanda kita.
Jadi, apakah kita tidak boleh pamer? ‘Pamerkanlah’ berkat itu dengan cara antara lain memberikan bagian persembahan yang layak kepada-Nya lewat gereja di mana kita berbakti, seberapa kita sanggup. Tolonglah teman-teman yang membutuhkan dengan apa yang kita dapat berikan. Sumbangkanlah buah talentamu, bukan hanya harta-benda fisik dan uang saja yang dapat kita ‘kembalikan’ sebagai wujud rasa syukur, kagum dan hormat.
Pamerkanlah berkatmu dengan cara semisal mengungkapkan dengan penuh kerendahan hati, ‘Pencapaian ini semata-mata karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi saya, memampukan saya, sudi memakai saya sebagai alat-Nya.’
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 27 Maret 2026











