Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Pandanglah Berkat-Rezeki sebagai Karunia Tuhan, Bukan Hanya Hasil Kerja Keras atau Pencapaian!

Kehidupan Kristen: Pandanglah Berkat-Rezeki sebagai Karunia Tuhan, Bukan Hanya Hasil Kerja Keras atau Pencapaian!

Kehidupan Kristen 20260327
4

Belum lama ini penulis membaca berita mengenai pasangan olahragawan-selebriti internasional yang mengunggah foto close-up tangan-tangan mereka berdua berpegangan, mengenakan jam tangan mewah, cincin emas bermata berlian, dengan latar belakang setir kendaraan mewah. Nilai semua barang yang mereka kenakan konon mencapai sekian puluh miliaran Rupiah. Sebuah pencapaian yang mungkin ‘wajar’ bagi segelintir orang, namun hanya isapan jempol, sebuah impian belaka bagi sangat banyak manusia.

Beberapa dari kita mungkin menganggap hal ini wajar saja, ‘toh mereka sudah bekerja keras untuk itu. Akan tetapi, apapun latar belakang/alasan pasangan tersebut, postingan demikian rentan mendatangkan rasa iri, sedih, minder hingga tuduhan-tuduhan ‘ah, tadinya dia siapa’, atau, ‘dia seperti kacang lupa pada kulitnya!’.

Apabila kita baru saja diberkati Tuhan dengan kesuksesan, misalnya mendapatkan bagian warisan, menang undian berhadiah, dianugerahi kenaikan jabatan dan sebagainya, kita rentan sekali tergoda untuk pamer. Apakah pamer itu diizinkan Tuhan?

Banyak tokoh dalam Alkitab juga ‘pamer’, misalnya Raja Salomo memperlihatkan kemegahan istana-Bait Allah kepada Ratu Syeba dan tamu-tamunya yang lain. Tidak hanya hikmat, Tuhan juga mengaruniakan berkat berlimpah sehingga Salomo sangat kaya-raya. Jadi, apa yang sebaiknya kita sadari dan lakukan apabila mendadak jadi ‘Salomo kecil’?

  1. Berkat yang kita miliki sesungguhnya bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Kita hanya dipercayakan-Nya. Semua yang ada yang ada pada kita, meskipun kita telah mengusahakannya (bekerja keras, mengolah, mengkreasikan dari nol sekalipun), tidak akan dapat kita nikmati secara utuh apabila Dia tidak mengizinkan-Nya.
  2. Berkat yang ada pada kita bukan bak durian runtuh yang sepenuhnya adalah hak/privilege kita, bisa digunakan suka-suka, melainkan sebuah tanggung jawab. Apabila kita gagal mengelolanya, dengan mudah kita akan gampang kehilangan.

    Bahkan berkat yang bukan harta-benda juga harus kita doakan setiap hari. Pasangan, anak-anak, cucu, semua anggota keluarga kita patutlah kita percayakan ke dalam tangan Tuhan. Kita tak bisa selalu mengawasi mereka, hanya Tuhan yang selalu hadir di sisi mereka.
  3. Banyak orang ingin lebih banyak berkat-rezeki. Rumah besar, kendaraan mewah, pekerjaan bergaji besar, viral-terkenal. Sadarilah jika lebih banyak diberkati bukan lantas berarti otomatis ‘aman’, justru saat kita diberikan kesuksesan, lebih banyak talenta hingga kelimpahan (harta), di sanalah iman sangat diuji. Seperti halnya Ayub, yang kekayaan hingga anggota keluarganya diambil Tuhan. Ayub tidak bersalah, juga bukan karena dosa orang tuanya, akan tetapi Tuhan sedang mengujinya. Ayub akhirnya berhasil lulus dari ujian yang sangat sukar itu, segala hartanya dikembalikan Tuhan (atau lebih tepatnya dikaruniakan kembali) berkali-kali lipat, termasuk mendapat ‘anggota keluarga baru’.

Kisah hidup kita berbeda-beda, belum tentu semua happy ending seperti Ayub. Kita juga belum tentu bisa sekuat-setegar seorang Ayub. Akan tetapi kita bisa meneladani ketaatannya, kesabarannya, sambil tetap berproses agar semakin mengenal Tuhan saat sebuah kehilangan ‘tanpa sengaja’ melanda kita.

Jadi, apakah kita tidak boleh pamer? ‘Pamerkanlah’ berkat itu dengan cara antara lain memberikan bagian persembahan yang layak kepada-Nya lewat gereja di mana kita berbakti, seberapa kita sanggup. Tolonglah teman-teman yang membutuhkan dengan apa yang kita dapat berikan. Sumbangkanlah buah talentamu, bukan hanya harta-benda fisik dan uang saja yang dapat kita ‘kembalikan’ sebagai wujud rasa syukur, kagum dan hormat.

Pamerkanlah berkatmu dengan cara semisal mengungkapkan dengan penuh kerendahan hati, ‘Pencapaian ini semata-mata karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi saya, memampukan saya, sudi memakai saya sebagai alat-Nya.’

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.


Tangerang, 27 Maret 2026

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Putri Pewaris Mafia: Bab 19

Putri Pewaris Mafia: Bab 19

Tak Sepenuhnya Sadar

Tak Sepenuhnya Sadar

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Cinde Lara: Bab 26

Cinde Lara: Bab 26

Antologi KompaK’O

Random image