Jun baru saja menjulurkan satu kakinya ke jendela kamarnya sementara kaki lainnya berada di luar. Dia melambaikan tangan kepada temannya sebelum menjulurkan kaki lainnya ke dalam kamar dan akhirnya dia melompat turun ke dalam kamarnya.
Hebat! Dia kembali ke kamarnya tanpa orang tuanya curiga bahwa dia telah keluar sepanjang malam.
Mendesah lega, dia berjalan ke kamar mandi ketika lampu kamarnya tiba-tiba menyala mengejutkannya, dan duduk di tempat tidurnya adalah ibundanya, sang ratu.
“Oh, hai Bunda.”
Fairuz mendesah.
“Heh, dasar anak bodoh! Ke mana saja awak sepanjang malam?”
“Bunda, aku, uh … eh …,” Jun tergagap karena dia tidak pernah merencanakan untuk berbohong sebelumnya.
“Apa yang awak buat, Junior? Apa masalah awak? Apa yang telah awak hilangkan yang selama ini awak cari? Apa yang awak inginkan dari ayahandamu dan saya, demi Tuhan!”
Jun mendesah dan berjalan menuju tempat tidur untuk duduk di samping ibundanya.
“Hela napas, Bunda,” katanya, sambil meletakkan kedua tangannya di bahu Fairuz.
“Bagaimana saya boleh napas bila awak bikin saya cemas, Nak? Apa yang salah dengan awak? Saya dan ayahandamu telah rancangkan bagaimana memberi awak pengantin yang sempurna hanya untuk awak selingkuhi di tengah malam. Apa masalah awak? Apakah awak akan selingkuh selama sisa hidup awak?”
“Tidak, Bunda. Saya tak maksud berbuat itu, tetapi lihat, saya hanya lelah dengan semua perhatian kerajaan bisnis kita. Saya mahu menjadi orang biasa, saya mahu menikahi sesiapa yang ingin saya nikahi, bukan robot.”
Ibundanya tersentak. “Apa pula yang awak cakap macam tu?”
“Bunda, saya cinta Bunda dan saya hargai semua yang Bunda lakukan untuk saya. Tetapi dengan tulus ikhlas, Bunda, Bunda tak mesti ambil semua masalah ini hanya supaya saya menikah.”
Ibundanya mengerutkan kening dan berkata dengan tegas, “Dengarkan saya Pengiran Gugus Lintang Johan Pahlawan Muda bin Sultan Johan! Perjamuan ini tetap akan berlangsung entah awak suka atau tak suka, dan awak tak boleh mempermalukan ayahanda awak dan saya dengan menolak siapa yang kami pilih untuk awak, faham ke?”
Jun mendesah, “mengapa penting sangat untuk saya menikah secepat ini, Bunda?”
“Awak bukannya menikah sekarang, Junior. Kami cuma mahu awak bertanggung jawab dan memiliki seseorang dalam hidup awak. Awak jatuh cinta padanya dan kemudian setelah awak menjadi Sultan dan CEO Barumei Invesment, awak menikah.”
Jun mendesah. “Saya tak mahu semua ini, Bunda. Biarkan saya memilih pengantin saya sendiri.”
“Jadi, pengantin mana yang mahu awak pilih? Putri seorang hamba, atau putri seorang masak karena saya terus dengar semua mengarut yang awak lakukan di kota ini. Sejak kapan awak menjadi manusia super? Atau awak bukan pahlawan yang telah memperjuangkan hak-hak orang miskin di sekitar, memburu pencuri yang mencuri di lingkungan sekitar dan menghukum mereka di seluruh kota?”
Jun tersenyum.
“Bunda dengar kira-kira saya. Bunda tengok, saya buat sesuatu yang baik.”
“Awak berkelakuan bodoh dan syukurlah tidak ada yang tahu awak sebagai pengiran karena saya tak faham malu macam apa yang akan awak bawa ke kerajaan dengan perbuatan bodoh awak!”
“Tapi saya buat sesuatu yang baik, Bunda.”
“Tidak, awak buat sesuatu yang buruk! Berlakon seperti orang miskin dan kalau ada yang mengenali awak, apa kata semua orang?”
“Bunda, saya bantu orang miskin dan membela yang lemah bersama teman saya—”
‘Saya tak kisah, Junior! Yang saya jaga adalah masa depan awak! Awak akan segera dapatkan seorang istri dan saya bersumpah jika awak membuat saya menyesal semua yang saya buat…”
Ratu Fairuz berhenti dan berdiri, meninggalkan ruangan.
Jun mengerang, lalu dia memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan ponselnya. Dia menekan sebuah nomor dan wajah temannya muncul di layar.
“Sam, lu udah nyampe di rumah?”
“Ya, pengawal kau mengejar aku, dikiranya aku maling apa?”
Jun terbahak-bahak. “Kalo lu sampe ketangkap satpam, gue pura-pura kagak lu!”
“Kau kawan yang paling bodat yang pernah ada!” jawab Sam dan mereka berdua tertawa.
“Bodoh!”
“Lu tau, emak gue udah nungguin gue. Kayanya lama dia nongkrong di kamar gue!”
“Wah! Kau dalam masalah besar, bro! Jadi apa yang terjadi?”
“Emak bilang tetep bakalan ngadain gala dinner. Sebodo…”
“Kau serius?”
“Yep. Emosi beneran, emak gue. Bayangin, dia nyebut nama lengkap gue, Pengiran Gugus Lintang Johan Pahlawan Muda bin Sultan Johan!”
Sam di ujung sana tersentak. “Oh, mamposh! Ngeri kali! Macam mana jalan keluarnya, bro?”
“Tahlah. Jalan buntu. Gue harus bikin exit plan.”
“Exit plan cemmana?”
“Gue belum tahu, tapi pasti entar ketemu .”
***
Cinde memperhatikan dari tempatnya berjongkok mengepel lantai ketika si penjahit mengukur Tatiana. Dia bertanya-tanya berapa banyak kain yang akan dia buat kali ini. Cinde bisa melihat ekspresi lelah di wajah Tatiana sementara Varya duduk, mengabaikan tampang jutek putrinya.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi dan Tuan Kasep, kepala pelayan membukakan pintu.
“Nona Tatiana, pelatih etiket Anda ada di sini.” Tuan Charles mengumumkan.
“Ya Tuhan!” teriak Tatiana.
“Diam! Kamu seharusnya tidak berbicara seperti itu! Wanita anggun macam apa yang bicara seperti itu? Pelatih kamu benar-benar harus melakukan banyak hal.”
“Aku bahkan belum selesai dengan pakaianku.” teriak Tatiana. “Dan gaun terakhir ini sangat penting.”
“Kamu bisa pergi menemui pelatihmu. Cinde!”
Cinde mendengar namanya dipanggil dan mendekati ibu tirinya. “Ya, Mama.”
“Nyonya, tolong ukur gadis ini saja, saya rasa tinggi badan mereka hampir sama, hanya saja Tatiana lebih tinggi, tapi Anda tahu tinggi badannya, bukan?”
“Ya, tentu, saya akan mengukurnya saja, Nona Tatiana boleh pergi.”
Tatiana menghela napas lega dan segera memeluk Cinde.
“Terima kasih sudah menggantiin aku.” Lalu dia pergi bersama pelatih tatakrama sementara Cinde menggantikannya diukur untuk sebuah gaun yang tidak akan pernah menjadi miliknya.











