Ayesha memintaku menemaninya menginap di homestay yang sama dengan Zack. Katanya ingin menikmati suasana malam. Awalnya aku keberatan, tapi gadis itu terus memohon, bahkan meminta bantuan Bhaskoro untuk merayuku. Astaga … kenapa urusan menginap harus melibatkan Bhaskoro segala?
Malam turun pelahan, suasana di homestay kecil di area wisata Borobudur memang selalu mengesankan. Aku duduk sendiri di teras, sementara Ayesha dan Zack menikmati makan malam berdua. Aku ingin sendiri, menikmati hawa sejuk yang menyusup lembut ke sela-sela bambu dan kayu jati.
Dari teras tempatku duduk cahaya lampu kuning temaram menggantung di bawah atap anyaman, memantulkan bayangan hangat yang menari di dinding. Aku menyesap minuman yang menguarkan aroma kopi tubruk yang baru diseduh, wanginya bercampur dengan wangi tanah basah setelah senja, memberi rasa damai yang sulit dijelaskan.
Di kejauhan, siluet bukit Menoreh tampak seperti bayang hitam yang memeluk langit penuh bintang. Suara jangkrik bersahutan, sesekali diselingi desir angin malam yang menggerakkan dedaunan. Homestay itu seakan berada di dunia kecilnya sendiri … sunyi, tenteram, dan terasa sangat dekat dengan alam.
“Sendirian?” Suara itu … amat kukenal, aku menoleh pelahan. Dalam hitungan kurang dari detik, aku menegang, mengerutkan alis dengan raut tak percaya. Sejenak … aku lupa cara membalas salam.
“Kok melamun sendirian?” tanyanya lagi. Kali ini langsung mengambil tempat duduk di sebelahku.
“Eh, i … iya,” ucapku gugup. Pemilik mata tajam itu tertawa, di telingaku tawa itu seperti menertawakan pikiranku yang tanpa sengaja memikirkannya sebelum ini.
“Lagi mikirin Mas?” tebaknya. Aku mencebik, menggeleng, lalu menunduk. Kesal juga kenapa tiba-tiba dia muncul? Kalau gini caranya makin sulit untuk menjauh darinya.
Hening … Bhaskoro memainkan telunjuknya pada cangkir kopi sambil sesekali mencuri pandang ke arahku, sementara aku pura-pura sibuk dengan ponsel. Pada jam-jam seperti ini, waktu seolah melambat. Para tamu duduk di kursi kayu di halaman, menikmati secangkir teh panas atau kopi sambil memandang langit yang bersih, seakan Borobudur sendiri tengah beristirahat dalam keheningan agungnya. Malam di homestay itu bukan hanya indah, tapi juga menenteramkan jiwa, menghadirkan keteduhan yang sukar dilupakan. Namun, tidak bagiku yang sibuk meredam debar yang membuat aku takut jantungku melompat keluar.
“Besok agendanya kemana?” tanya Bhaskoro memecah keheningan.
“Entah, mungkin ke daerah Secang dan sekitarnya.”
“Mas boleh ikut?” tanyanya, aku mengangguk, pamit istirahat lebih dulu, selain lelah, aku juga sedang tak ingin ngobrol dengan Bhaskoro, ada luka yang berusaha sembuh, tapi kehadiran laki-laki itu justru membuatku sulit sembuh.
Namun, sebelum aku beranjak pergi, Bhaskoro menahan langkahku, tatapannya menusuk, lembut sekaligus tajam.
“Mas cuma mau bilang terima kasih untuk segala sabar, antusias, bahkan doa dan cinta Dek Tantri yang tak pernah surut sedikitpun.”
Aku merasakan sesak, Allah … kenapa hati ini jadi rapuh setiap bertemu dengan Bhaskoro, setiap kalimatnya seakan menjanjikan harapan yang digantung tinggi dan tak mampu kuraih.
“Maaf, aku mau ke kamar dulu … capek,” elakku bergegas menuju kamar yang disewa Ayesha untuk kami berdua.
***
Pagi baru merekah, kami bersiap untuk eksplorasi hari ini. Beberapa candi sudah masuk dalam agenda kunjungan. Magelang boleh disebut sebagai Negeri Seribu Candi. Sebab, puluhan candi dapat ditemukan di wilayah Magelang mulai dari candi-candi besar maupun candi kecil atau candi desa.
Jika mau diambil garis lurus, rangkaian candi tersebut bisa dimulai dari wilayah Wonosobo. Setelah dari Magelang memanjang terus hingga wilayah Sleman dan perbatasan Klaten.
Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan besar wilayah Kerajaan Mataram Hindu sepanjang candi-candi tersebut. Namun, patut disayangkan hingga saat ini belum ditemukan pusat Kerajaan Mataram Hindu.
Aku melajukan mobil menuju utara Magelang. Zack dan Ayesha tampak lebih segar dan bersemangat. Kami satu mobil sementara Bhaskoro mengikuti dari belakang, mengendarai mobilnya sendiri. Tujuan pagi ini adalah candi yang berada di desa Candi Retno, Kecamatan Secang.
Dari puluhan candi yang ada di wilayah Magelang, Candi Retno menduduki posisi yang paling unik. Candi Retno termasuk kategori candi desa. Dalam artian candi tersebut hanya digunakan untuk peribadatan warga sekitar
Penamaan sebagai Candi Retno sendiri sampai hari ini belum diketahui sebabnya. Sebab desa di mana candi tersebut berada adalah Desa Candiretno. Sehingga muncul keraguan penamaan candi tersebut adalah karena lokasinya, atau sebaliknya. Namun, dugaan yang mungkin adalah penamaan candi diambil dari lokasi di mana candi tersebut berada.
Desa Candiretno sendiri merupakan gabungan dari dua dusun yaitu Dusun Setan dan Dusun Candirejo. Desa Candiretno beberapa tahun terakhir terkenal karena memiliki dusun yang bernama unik yaitu Dusun Setan sebagai pusat pemerintahan Desa Candiretno.
Karena letaknya yang berada di perkampungan penduduk, mobil hanya bisa dititipkan pada salah satu warga yang memiliki halaman cukup luas. Kedatangan kami disambut ramah oleh warga sekitar, terutama Zack yang berwajah bule menjadi pusat perhatian saat memasuki lorong sempit di antara rumah warga untuk menuju ke lokasi candi.
Zack dan Ayesha segera menghambur, mengamati keunikan Candi Retno yang dibangun dari batu bata, bukan batu andesit. Material yang digunakan untuk membuat candi ini memiliki daya tarik tersendiri. Batu andesit hanya digunakan pada yoni yang masih ada di lokasi tersebut. Yoni sendiri merupakan lambang dewa Syiwa bersama lingga. Sayangnya tidak ditemukan lingga di tempat candi ini.
Bhaskoro menjelaskan bahwa, candi yang ditemukan pada tahun 1976 oleh penduduk setempat ini, ditemukan sudah tidak utuh lagi. Saat penemuan Candi Retno hanya menyisakan bangunan tangga masuk, pondasi luar bagian kaki, dan pondasi dalam. Adapun atap maupun badan candi sudah tidak ada lagi.
Diduga Desa Candiretno merupakan kawasan pemukiman karena bangunan suci yang menjadi tempat sembahyang biasanya juga tidak akan jauh dari rumah penduduk.
Bukannya tanpa dasar, karena banyak ditemukan berbagai temuan pendukung teori ini. Mulai dari beberapa arca maupun peralatan memasak dan alat-alat pertanian.
Keberadaan Candi Retno memperkuat dugaan bahwa, Desa Candiretno dahulu merupakan sebuah pemukiman dengan banyak penduduk yang menganut agama Hindu.
Tak jauh dari Candi Retno, hanya berjarak beberapa meter, terdapat sebuah makam penduduk setempat. Di antara makam terdapat situs yang tidak diketahui namanya. Ada dua Yoni di area makam tersebut, salah satunya dalam kondisi terbalik dan banyak bata berukuran besar tersebar. Tidak ada yang tahu bagaimana batu dengan berat puluhan ton tersebut bisa berada dengan kondisi terbalik. Situs yang belum memiliki nama tersebut diduga memiliki keterkaitan dengan candi Retno.
Saat sedang mengamati yoni, seorang perempuan paruh baya mendatangi kami, menurut beliau di sungai yang mengaliri area persawahan di sekitar makam terdapat batu tanpa tutup, mungkin itu peripih. Namun, kami tak sampai ke tempat itu karena lokasinya berada di area persawahan dan saat itu sedang musim tanam. Jika memaksa lewat, akan merusak tanaman yang baru disemai.
Puas mengamati temuan yang ada di sekitar Candi Retno, Bhaskoro mengajak melanjutkan perjalanan. Tepat di tikungan sebelah kiri, tepatnya di Dusun Setan, Bahskoro mengatakan bahwa di tPat ami berdiri saat ini pernah ditemukan patung emas Ganesha di kebun kelapa milik penduduk. Salah satu warga kemudian melaporkan pada polisi.
Tidak tanggung-tanggung ganesha yang ditemukan berjumlah 14 biji. Pada penggalian selanjutnya yang dipimpin oleh Perquin, pada lokasi yang sama juga ditemukan sisa pondasi sebanyak 7 buah dalam satu baris. Ganesha tersebut kemudian di simpan di museum Nasional.
Candi terbesar dengan ukuran sekitar 4,85 M berada di tengah dengan masing masing 3 candi pendamping di samping kiri kanannya dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuk seperti ini sungguh suatu posisi yang unik di Jawa tengah. Sangat mungkin candi ini digunakan untuk pemujaan Ganesa, suatu hal yang tidak begitu lazim di Jawa.
Bhaskoro terus membawa kami pada sisa-sisa penemuan di sebelah barat Candi Retno, di daerah Mlelo masih terdapat Kala dan Gapura Candi yang sudah diurug menjadi sawah kembali. Sangat disayangkan sebenarnya karena candi yang di awal abad 20 masih bisa terlihat dari hasil penggalian harus ditimbun kembali sehingga bangunan itu kemungkinan akan hilang selamanya.










