Cinta Kedua & Terakhir: Bab 49
Post Views: 43 Di kediaman Dokter Dana Silvia, Dokter Dana dan Kanaya sedang duduk sambil menyusun rencana selanjutnya yang akan mereka jalankan. “Jadi apa rencana... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 48
Post Views: 42 Silvia diam sambil menyeruput minumannya secara perlahan. Kali ini pandangannya tertuju hanya pada minumannya. Dia ingin sekali meninggalkan tempat... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 47
Post Views: 43 “Kami ingin kamu bekerja sama untuk mengumpulkan bukti kejahatannya agar kita bisa menjebloskan orang yang sudah berani untuk melakukan tindak kejahatan... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 46
Post Views: 50 “O, halo Kanaya. Saya Silvia tunangannya Mas Dana. Senang sekali rasanya saya bisa berjumpa langsung dengan ibu kandung gadis kecil yang imut dan... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45
Post Views: 38 Rekaman itu menunjukkan Dokter Dana yang sedang berpelukan dengan seorang wanita di sebuah taman. Silvia terduduk di kursi kantornya. Dia heran, kenapa... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44
Post Views: 43 Setelah tubuhnya kembali seimbang, Dokter Dana pun mendorong tubuh wanita itu dan berkata. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” “Sayang.... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 43
Post Views: 45 “Adikku itu, Yah. Ya jelas dong. Kebanggaanku. Oiya. Tadi ayah nanya soal asisten. Apa ayah ada rekomendasi?” tanya Silvia sambil membersihkan... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 42
Post Views: 51 Daripada dia hanya mengkhayal sendiri, lebih baik dia menghubungi tunangannya dengan panggilan video. Setelah melakukan dua panggilan akhirnya dia... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 41
Post Views: 44 Setelah selesai makan malam, Silvia berpamitan dengan Bu Rohana, Pazel dan istrinya. Saat Dokter Dana hendak berdiri, salah satu pengawalnya datang... Baca lebih lanjut.
Cinta Kedua & Terakhir: Bab 40
Post Views: 53 Jantung Pazel berpacu. Sekujur badannya terasa dingin. Dia diam seribu bahasa. Bahkan untuk menoleh ke samping pun dia tidak bernyali. “Pak Pazel.... Baca lebih lanjut.
