Home / Fiksi / Cerbung / 26. Narasi dari Reruntuhan Batu Candi

26. Narasi dari Reruntuhan Batu Candi

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 27 of 33 in the series Ananta Kama

Pagi itu Magelang diselimuti kabut tipis yang menggantung rendah di antara hamparan sawah yang sebagian besar ditanami padi dan sayuran. Jalanan desa yang kami lalui tak terlalu lebar, bahkan di beberapa bagian ada yang retak, seolah tak pernah benar-benar diperhatikan. Ayesha menurunkan kaca mobil, menghirup udara basah bercampur aroma tanah.

“Rasanya aneh ya,” ucapnya pelan. “Daerah sekaya ini secara sejarah, tapi banyak yang seperti … dilupakan.”

Aku hanya tersenyum tipis, mengamati tepian jalan. Di balik semak liar dan rumpun bambu, tampak susunan batu andesit tak beraturan, sebagian tertanam, sebagian lain nyaris tertutup ilalang.

“Bukan aneh,” jawabku. “Lebih tepatnya biasa. Terlalu biasa sampai orang berhenti bertanya.”

Kami berhenti di sebuah lahan kosong di pinggir desa Tonoboyo, Kecamatan Bandongan. Tidak ada papan informasi, tidak ada pagar, hanya gundukan batu dengan pahatan samar. Lumut menempel tebal, akar pohon kecil menyusup di sela-sela relief yang nyaris tak terbaca.

Penemuan bersejarah di Bandongan ini lebih dikenal sebagai Watu Cangkir, sebab yoni disini cukup berbeda dengan penemuan yoni lainnya, memiliki cerat yang pada sisinya menyambung dengan kaki yoni.

Jika diperhatikan, cerat pada penemuan yoni ini membuatnya memiliki kemiripan dengan sebuah cangkir. Konon penemuan bersejarah ini merupakan peninggalan sejak abad ke-7 masehi dan merupakan peninggalkan dari masa Dinasti Sanjaya.

Ayesha melangkah perlahan, seolah takut mengganggu sesuatu yang sedang tidur panjang. “Ini candi?” tanyanya ragu.

“Entah,” jawabku jujur. “Bisa sisa bangunan suci, bisa struktur pendukung, bisa juga reruntuhan yang belum pernah dicatat resmi.”

Ayesha mengernyit. “Belum dicatat? Maksudnya …?”

Aku berjongkok di hadapan yoni yang separuh tenggelam ke tanah. “Banyak situs di Magelang yang tidak punya nama. Tidak masuk daftar pengelolaan BPCB, atau pernah tercatat sebentar lalu hilang dari perhatian. Tidak ada anggaran, tidak ada perawatan. Akhirnya dibiarkan.”

Ayesha memotret pahatan samar di salah satu batu. Garisnya halus, seperti tangan yang sangat yakin dengan apa yang ia ukir, meski kini pesan itu hampir lenyap. “Padahal ini bukan sekadar batu,” katanya lirih. “Ini ingatan.”

Aku mengangguk. “Masalahnya, ingatan yang tidak dianggap penting akan mudah dikubur. Kadang secara harfiah.”

Kami mengitari situs kecil itu. Di sudut lahan, seorang petani sedang mencangkul, tak jauh dari batu. Ia tak tampak terusik oleh keberadaan reruntuhan itu.

“Mas,” sapaku. “Boleh tanya, sejak kapan yoni ini ada di sini?”

Petani itu berhenti sejenak, menyeka keringat. “Sejak saya kecil sudah ada. Dulu lebih banyak di sini batu-batu seperti itu, tapi ya … ada yang diambil, ada yang tertimbun.”

“Diambil?” Ayesha menahan napas.

“Iya. Buat pondasi rumah, kandang. Katanya batu bagus,” jawabnya datar, seolah sedang bicara tentang kayu bakar.

Setelah petani itu pergi, suasana menjadi sunyi kembali. Ayesha menatapku dengan mata berkabut. “Kenapa tidak ada yang melindungi?”

Aku tersenyum pahit. “Karena untuk melindungi, sesuatu harus dianggap penting dulu. Dan untuk dianggap penting, harus ada nama, narasi, dan suara yang cukup keras.”

Aku melanjutkan perjalanan ke lokasi lain, masih di wilayah Bandongan, tepatnya di desa Trasan. Situs kedua hanya berupa batu besar berbentuk bulat, mirip gong gamelan. Karenanya di sebut Watu Gong. Situs ini masuk dalam daftar situs bersejarah di Kabupaten Magelang. Dulunya terletak di pertengahan sawah di wilayah Pagongan. Tidak tahu pasti berapa lama watu gong ini berada, diperkirakan sejak jaman majapahit sudah ada.

Kondisinya bahkan lebih menyedihkan, batu-batu berserakan di tengah kebun singkong.

Ayesha berlutut, menyentuh permukaan batu yang dingin. “Situs seperti ini harusnya dirawat. Batu-batu itu membuatku merasa seperti mengunjungi makam tanpa nisan. Ada yang dimakamkan di sini, tapi tak ada yang tahu siapa.”

Aku terdiam lama sebelum menjawab. “Kadang aku berpikir, kita terlalu sibuk menjaga yang sudah terkenal. Yang sudah punya tiket masuk, jam operasional, dan brosur. Yang sunyi ini … dibiarkan berjuang sendiri.”

“Apa gunanya lembaga, kalau masih banyak yang tercecer?” suara Ayesha bergetar, bukan marah, tapi lebih pada prihatin.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak ingin menyederhanakan. Ada keterbatasan, birokrasi, politik anggaran. Tapi tetap saja, yang hilang bukan sekadar batu. Yang hilang adalah kesinambungan cerita.”

Matahari mulai meninggi ketika kami tiba di lokasi ketiga, sebuah bukit kecil bernama Pethung Lumut. Di lerengnya ada sebuah sebuah situs yang masih utuh, ada susunan batu melingkar, patung Nandi, dan fondasi bangunan yang belum sempat selesai. Situs Pethung Ombo ini masih tergolong utuh, batuannya lengkap, tapi sayang sepertinya belum tercatat di BPCB. 

Ayesha berdiri di tengah lingkaran itu. “Bayangkan,” katanya. “Dulu mungkin ada ritual, doa, atau pertemuan penting di sini. Sekarang, hanya angin yang datang.”

“Dan kita,” tambah Tantri pelan, “yang datang terlambat.”

Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga tanah. Seorang laki-laki mendekat, membawa tas kecil dan buku catatan. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam namun hangat.

“Tidak terlambat,” katanya sambil tersenyum. “Selama masih ada yang mau melihat.”

Ayesha menoleh cepat. “Bhaskoro?”

Aku tersenyum, entah senang atau justru kesal karena aku tahu dia akan muncul cepat atau lambat.

Bhaskoro berdiri di tepi lingkaran batu, menunduk hormat sejenak, seolah menyapa sesuatu yang tak kasat mata. “Situs-situs seperti ini bukan tidak penting. Mereka hanya tidak bersuara.”

Ia membuka buku catatannya. Halamannya penuh sketsa, koordinat, dan catatan tangan. “Mas sudah mencatat beberapa lokasi seperti ini. Tanpa nama resmi, tanpa papan. Tapi justru di situlah kejujurannya. Mereka belum dipoles.”

Ayesha menatap buku itu dengan mata berbinar. “Lalu apa yang bisa kita lakukan?”

Bhaskoro menutup bukunya. “Menceritakannya. Menuliskannya. Membuat orang berhenti dan melihat. Sejarah tidak selalu diselamatkan oleh institusi. Kadang ia bertahan karena segelintir orang menolak lupa.”

Aku mengangguk pelan. “Mungkin itu tugas kita.”

Angin berembus lebih kencang, menggerakkan pepohonan yang menyumbang humus bagi kesuburan hutan di bukit kecil yang berada di Kecamatan Bandongan itu.  Situs itu seperti sedang bernapas. Di tengah kesunyian yang panjang, kami bertiga berdiri, menjadi saksi kecil bagi sejarah yang hampir hilang, tapi belum sepenuhnya lenyap.

Ananta Kama

5. Situs yang Tersembunyi di Secang 7. Jejak Sunyi Candi Pringapus

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image