Kami meninggalkan Candi Pringapus, langkah terasa lebih pelan, seolah tak ingin buru-buru melepaskan jejak sunyi yang masih melekat di antara batu-batu tua itu. Bhaskoro berjalan paling depan, sesekali menoleh ke arahku dan Ayesha yang mengikutinya dengan pikiran masing-masing. Mobil melaju di jalan kecil yang berkelok semakin menjauh dari candi Pringapus, menyusuri hamparan ladang tembakau di lereng yang perlahan menanjak.
Aku menarik napas panjang. Entah … ada rasa hangat yang tertinggal dari Pringapus, seperti enggan beranjak, atau mungkin sesuatu … tentang doa-doa yang pernah dipanjatkan, tentang manusia yang datang dan pergi, sementara batu-batu yang tetap setia menjaga cerita. Ayesha memandang ke luar jendela, matanya menangkap bayangan Gunung Sindoro yang mulai diselimuti kabut tipis. Hatinya bergetar, seakan perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menyusuri lapisan-lapisan waktu yang saling bertaut.
“Liyangan berbeda,” ucap Bhaskoro memecah keheningan. Aku dan Ayesha menoleh serempak.
“Bukan hanya candi, tapi sebuah tapak kehidupan yang pernah utuh.” Kalimat itu menggantung di udara, menumbuhkan rasa penasaran yang diam-diam menyatukan langkah kami. Aku tersenyum tipis, sementara Ayesha mengangguk pelan, membayangkan rumah-rumah, jalan, dan jejak manusia yang pernah terkubur abu, lalu ditemukan kembali.
Perjalanan menuju Situs Liyangan terasa seperti undangan untuk mendengarkan kisah yang lebih luas tentang keseharian yang pernah hidup, tentang bencana dan keteguhan, tentang waktu yang tak pernah benar-benar menghapus.
“Situs Liyangan adalah situs arkeologi penting peninggalan Mataram Kuno abad ke 8-10 M, unik karena merupakan penemuan kawasan permukiman kuno paling lengkap, terintegrasi antara area hunian, pemujaan umat Hindu, dan pertanian, yang terkubur material vulkanik Gunung Sindoro, mengungkap detail kehidupan peradaban kuno yang maju melalui temuan candi, struktur rumah panggung kayu, peralatan rumah tangga, hingga sisa-sisa pertanian seperti gabah.” Bhaskoro menuturkan panjang lebar.
“Sepertinya Situs Liyangan ini istimewa,” ujar Ayesha saat kami memasuki kawasan area situs yang terletak di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung ini.
“Benar, berbeda dari situs candi biasa, Liyangan menunjukkan unit peradaban utuh dengan area hunian seperti sisa rumah kayu, perkakas, tempat peribadatan candi Hindu, dengan yoni, dan arca, juga pertanian berupa saluran irigasi, alat pertanian yang terhubung,” jawab Bhaskoro.
Kami mengelilingi situs yang disebut dlsebagai indikasi ibukota Mataram Kuno. Konon beberapa peneliti mengaitkan Liyangan dengan daerah “Layang” yang disebut dalam prasasti, yang mungkin menjadi wilayah kekuasaan raja Mataram Kuno seperti Dyah Tlodhong.
Bangunan candi berbahan batu besar atau boulder ini, ditemukan terkubur oleh letusan gunung, Di situs yang tersimpan baik ini juga ditemukan sisa-sisa organik seperti kayu dan gabah yang hangus, hal tersebut memberikan bukti langsung kehidupan kuno. Bahkan ditemukannya saluran irigasi kuno dan struktur talud batu, menunjukkan kecanggihan teknologi pada masanya.
Beberapa temuan penting selain Yoni, arca, pipisan dan alat penerangan atau celupak, juga ditemukan sisa-sisa rumah panggung dari kayu, bambu, dan ijuk, alat rumah tangga seperti keramik, tembikar, logam, Genta perunggu. Gabah atau padi dan biji-bijian dari aktivitas pertanian.
“Ternyata Temanggung punya candi yang memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Mataram, ya?” ujar Ayesha. Gadis itu meneliti setiap detail batuan dan mencatatnya.
“Kabupaten Temanggung begitu lekat dengan nama besar Kerajaan Mataram Kuno. Berbagai penelitian yang telah dilakukan berhasil memperlihatkan beberapa tinggalan yang berkorelasi dengan Kerajaan Mataram Kuno.” Bhaskoro memaparkan sambil membuka buku catatan kecilnya. Ayesha duduk di sebelahnya, sementara aku memilih duduk sedikit menjauh.
“Dimulai awal tahun 2000-an di satu perkampungan kecil ditemukannya sebuah struktur batu. Warga setempat pada saat itu kebingungan dan tidak mengetahui perihal mengenai sisa bangunan tersebut. Lokasi awal penemuan struktur batu tersebut berada di halaman rumah warga. Mendengar hal tersebut, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta langsung mendatangi lokasi. Setelah dilakukan pengamatan, diketahui bahwa struktur batu berasal dari balok-balok batu yang disusun secara vertikal. Peneliti memperkirakan jika temuan tersebut kemungkinan merupakan tinggalan dari Kerajaan Mataram Kuno.”
Bhaskoro berhenti sejenak, melirikku yang pura-pura sibuk memainkan ponsel. Terdengar helaan napas sebelum ia melanjutkan.
“Delapan tahun berselang, jejak peradaban kembali ditemukan saat ada aktivitas penambangan yang beroperasi di Dusun Liyangan. Tinggalan arkeologis kembali mencuat dengan ditemukannya talud, beberapa bagian dari candi, arca, yoni, serta fragmen keramik ataupun tembikar. Akhirnya tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta kembali melakukan peninjauan dan menyusun rencana penelitian yang berkelanjutan di situs tersebut. Pihak dari Balai Arkeologi Yogyakarta menilai, beberapa temuan tersebut merupakan hasil kebudayaan dari Kerajaan Mataram Kuno terutama pada abad ke IX-X Masehi.”
Seiring dengan berjalannya waktu, riset mendalam terus dilakukan di Situs Liyangan. Peneliti beranggapan, situs tersebut memiliki periode yang sama dengan Kerajaan Mataram Kuno dan diperkuat dengan adanya jejak kehidupan yang begitu kompleks. Tinggalan artefaktual yang didapatkan memperlihatkan beberapa aspek kehidupan, mulai dari aspek hunian, mata pencaharian, dan aspek religi.
“Yang pasti pemilihan tempat untuk bermukim tidak dipilih begitu saja. Tapi ada uji kelayakan. Misalnya di lingkungan tersebut harus dilengkapi beberapa komponen, mulai dari sumber mata air, sumber makanan, keamanan, jalur transportasi, tanah yang subur, dan ketersediaan bahan-bahan alami yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.” Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menyela. Bhaskoro tersenyum … menatap penuh air. Aku hanya mengedikkan bahu acuh.
“Benar sekali, Dek Tantri. Secara tidak langsung, Situs Liyangan dan Gunung Sindoro telah memperlihatkan kondisi yang demikian. Letaknya yang berada di lereng, kemudian diapit oleh dua buah sungai yaitu Sungai Progo dan Sungai Deres, membuat manusia yang hidup pada masa itu menciptakan sebuah tatanan lokasi berupa teras-teras yang dilengkapi dinding balok dari batuan beku, seperti andesit, basal, tufa, dan granodiorit,” imbuh Bhaskoro.
Tidak bisa disangkal, adanya aktivitas hunian semakin diperkuat dengan temuan bangunan yang diduga sebagai rumah tinggal. Bhaskoro kembali membuka catatan, membolak-balik lembaran buku kemudian berhenti pada halaman yang dipenuhi tulisan kecil-kecil.
“Menurut hasil analisis hasil temuan tersebut terdiri dari kayu, bambu, dan ijuk. Ketiga bahan yang memiliki fungsi masing-masing. Kayu difungsikan sebagai tiang, lantai, dan kerap digunakan sebagai dinding. Bambu, digunakan sebagai bahan dinding yang dianyam dan digunakan sebagai rangka atap. Ijuk difungsikan sebagai atap dan tali yang biasanya dipakai untuk mengikat konstruksi bangunan. Berdasarkan hasil rekonstruksi, bangunan tersebut memiliki panjang 5-6 meter dan lebar 3 meter. Bentuk bangunan menyerupai panggung, terdiri dari 16 tiang utama yang masing-masing memiliki 4 tiang pada tiap sisinya.”
“Tapi semua hanya tinggal bekasnya?” sela Ayesha bertanya.
“Benar, yang tersisa hanya umpak atau fondasi,” jawab Bhaskoro.
“Apakah masyarakat jaman itu sudahengenal sistem pertanian?” tanya Ayesha lagi.
“Masyarakat yang pernah bermukim di Situs Liyangan sudah melakukan aktivitas pertanian. Bukti arkeologisnya dapat dilihat pada penemuan artefak logam yang terdiri dari sabit dan parang, sisa-sisa padi, saluran air, dan gundukan tanah yang merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam proses pertanian,” pungkas Bhaskoro, ia berdiri melangkah menuju jalan keluar
“Tapi aku tidak melihat tanda-tanda situs ini sebagai situs Hindu?” kilah Ayesha sambil berjalan mengikuti Bhaskoro.
“Orang-orang Liyangan masih menganut kepercayaan asli, yaitu kepercayaan terhadap alam. Mereka beranggapan jika posisinya cenderung tinggi maka dianggap semakin suci. Baru memasuki abad 6-8 Masehi, perlahan mendapat pengaruh Hindu-Budha. Bahkan, semakin kesini sistem kepercayaan yang dianut lebih didominasi unsur-unsur Hindu Budha tanpa menghilangkan kepercayaan asli. Oleh karena itu, objek yang awalnya berupa undakan teras, kemudian perlahan mengalami perubahan yang ditandai dengan adanya bangunan candi, arca, lingga, yoni, dan nandi.”
Kami meninggalkan lokasi, menatap jejak kehidupan yang pernah luluh lantak oleh letusan Gunung Sindoro pada awal abad ke-XI. Permukiman pun tenggelam oleh semburan material berupa awan panas, lahar dingin, lahar panas, juga lava yang keluar dari mulut gunung.
Seperti roda yang terus berputar, jejak peradaban yang pernah ada di wilayah tersebut menjadi pembelajaran yang berharga untuk menyongsong “roda kehidupan” yang terus bergerak.
***









