Pulau Jawa, Waktu Indonesia bagian FC.
Hiruk-pikuk perayaan pengangkatan Cianbunjin Partai FC masih semarak ketika tiba-tiba salah satu anggota partai yang masih hijau datang melapor.
“Ada apa ini? Apakah Trio Rahab Ganendra, Ando Ajo dan Selsa datang kembali meminta ulang jabatan Cianbunjin yang kemarin mereka tinggalkan?” bentak salah satu Paspamci alias Pasukan Pengaman Cianbunjin dengan wajah keras.
“Ti-tidak, Mas Paspamci, bukan itu,” jawab si pelapor dengan agak gemetar.
“Lalu apa?” teriak Paspamci yang lainnya dengan mimik yang tak kalah galak dari Paspamci pertama.
“Ng… anu.. Mas Pas… anu…”
“Anu-anu apa? Anunya siapa yang anu-anu? Jangan lama beranu-anu dan membuat postingan ini jadi terkesan cabul, mengerti!”
“Iy-iya, Mas Pas… anu… eh, maksud saya… ada orang hanyut di sungai belakang kuil,” ucap si pelapor sambil memerintahkan untuk menggotong orang hanyut yang mereka temukan masih memeluk batang kayu di sungai tadi.
Ketika sosok hanyut tersebut diletakan di tengah kuil, serentak seluruh anggota partai golongan tua dan kawakan berteriak kaget dan langsung bertabik: “HORMAT PADA LELUHUR PARTAI FC!”
“Ada di … di mana aku? Dan kenapa gam … gambar wajahku ada di … ruangan ini…”
Mendadak dua orang mendekat dengan amat hormat, dan kembali bertabik sambil meneteskan air mata kepada wanita hanyut itu.
“Hormat kepada Kokoh leluhur!” seru mereka berdua serempak sambil terus terharu.
“Si … siapa kalian? Dan mengapa bertabik dan memanggil bibi kepadaku?”
“Kokoh adalah leluhur kami dua angkatan sebelumnya yang sempat menghilang dari Tanah Jawa, dan kami adalah Cianbunjin Partai FC yang baru di angkat beberapa hari yang lalu melalui penunjukan langsung dari pejabat lama yang mandeg pandito. Saya Kelvin dan ini Sri Subekti. Mohon Kokoh menerima kembali jabatan Cianbunjin tunggal Partai FC,” jawab Kelvin sambil kembali bertabik.
“Tidak … tidak … aku masih tak paham tentang apapun.”
Kembali Kelvin dan Sri Subekti bertabik, untuk kemudian menceritakan kejadian menghilangnya salah satu leluhur partai setelah ontran-ontran yang amat menggemparkan itu.
“Demikianlah Kokoh. Setelah Kokoh berkelana dengan ci-hu Febri dan menggegerkan RT persilatan dengan jurus Belati Hawa Nafsu, sejak itulah tak ada lagi angkatan kami yang mampu melatih ilmu tersebut. Bahkan kiamhoat jurus Sajak Sikil Papat pun tak pernah berhasil kami selami karena maknanya yang terlalu dalam,” terang Kelvin seraya langsung melantunkan kiamhoat berbentuk tembang tersebut dengan amat lantang dan berirama.
Bapak pucung…
Sikil papaaat… nganggo kuukuuuu…
Buuntuuuut nglewer doowooo
Gaweaneee tungguuu pariii
Tikus tekooo… ditubruk mati sekolooo…
“Dan kiamhoat lanjutannya semakin membuat kami bingung memaknainya, Kokoh,” lanjut Kelvin, yang lalu kembali menembang.
Bapak pucung…
Dudu baluuung… bisa ngacuuuung…
Manggone nang jero saruuung…
Duweke bapak laaan… biyuuung…
……………….
“Bagian terakhir yang paling penting itu justru hilang, Kokoh, membuat kami tak pernah mampu mencapai puncak lwekang yang paling tinggi dari aliran sejati partai kita. Untunglah ada Mahaguru Jati yang kebetulan mampir ngombe setelah berjalan kaki jauh sekali akibat kecopetan di Pasar Klewer. Agak aneh juga jika mengingat kemampuan beliau jauh lebih mumpuni tapi tetap menjadi korban. Dari beliaulah kemudian mendapat tambahan kiamhoat walau memang hanya beberapa patah kata yang amat sulit serta luas pemaknaannya, Kokoh. Dan beliau juga berpesan wanti-wanti agar jangan keliru melatihnya dari urutan yang paling dasar, sebab jika tersesat dapat menyebabkan tingginya libido hingga akan berubah menjadi Pendekar Cabul.”
sangkan paraning dumadi
manungso urip ono ing donya iku prasasat mung mampir ngombe
ngundhuh wohing panggawe
jalma pinilih
memayu hayuning bawono
Neng mbok menawi Kere ajeg
sugih ruang tamu meniko kanggeh nggambaraken
tiyang gesang
sanadyan mlarat
nanging kathah paseduluranipun
Diam-diam Desol mengulang kiamhoat tersebut dalam hati. Tangannya bergerak-gerak mengikuti arahan yang terkandung di dalamnya.
sangkan paraning dumadi
Asal mula dan tujuan akhir dari segala yang ada di dunia.
Dari mana semua yang fana berasal? Benarkah dari ketiadaan? Atau justru bersumber dari Dia Sang Causa Prima?
Gerak tangan Desol semakin liar dan cepat seiring gejolak perenungan di dalam batuk kepalanya.
Lantas kemana semua mengakhir? Kembalikah kepada ketiadaan? Atau justru lagi-lagi memuara ke hadirat-Nya?
Kembali gerak tangan Desol kian liar dan semakin kilat, hingga suatu titik Desol merasa ada hawa murni yang besar meluap-luap di tengah pusarnya, memberontak ke nadi kim dan meh yang selama ini belum pernah dapat dia tembus hingga mengakibatkan iwekangnya sukar berkembang.
Tes! Seeer!
Keringat dingin membasah di sekujur tubuh Desol, hingga suatu titik dia tak tahan lagi dan mengikuti dorongan dari dalam tubuh untuk berteriak sambil melompat ke udara
MIAAAAAAAAAAAAAWWWWWWWW!
Brush!
Atap kuil jebol tertabrak tubuh Desol yang penuh hawa sakti tersebut, membuat gempar seluruh yang ada di kuil.
Sontak mereka berlari keluar kuil memburu Desol, khawatir terjadi apa-apa pada Kokoh mereka, yang sebenarnya secara usia lebih pantas disebut popo itu.
“Di mana Beliau? Di mana?” teriak semua orang dengan amat hiruk-pikuk.
Sebuah bayangan meluncur amat pesat dan jatuh berdebum di halaman kuil.
BUMMM!
Debu dan bongkahan tanah berhamburan menutupi pandangan, hingga beberapa saat kemudian mulai terlihat cekungan besar di tanah, dan … Desol berdiri angker di tengah lingkaran dengan mata yang gemeredep.
Kesunyian mewabah, sebelum akhirnya pecah menjadi hiruk yang lebih pikuk dari sebelumnya.
“Hiyooo!”
“Hore!”
“Eurekaaa!”
Terburu-buru Kelvin dan Sri Subekti bertabik ke hadapan Desol.
“Bangunlah. Dan mulai hari ini, kalian berhak atas hadiah hari ini, sebagai wujud dari bangkitnya Partai FC yang kalian pimpin bersama Cianbunjin yang lainnya.”
Kembali Kelvin dan Sri Subekti. Hati mereka gembira luar biasa.
“Kamsiah, Kokoh.”
“Xie xie, Kokoh.”








