Saat Kau Terlelap
2 saat kau terlelap aku bermandikan sunyi yang pedih dan menyakitkan air mata kini tak lagi punya hati saat kau terlelap hidungku tak lagi tajam membaui aroma kehidupan,... Baca lebih lanjut.
Dunia Fiksi yang Aneh (Part 1)
“Kau ingat tebing tepi danau yang berada dekat Lembah Patah Hati?” Christian Kelvin mengangguk. “Kita ke sana sekarang, karena aku masih tersinggung atas penamaan... Baca lebih lanjut.
Gurindam Doa
mengapa banyak doa kian enggan terbacabukankah tabiat doa selalu bergiat mengeja yang lupa mengapa doa membisu saat bertemu sederet ragudoa tentu cemburu, menelikung... Baca lebih lanjut.
Diam-Diam Aku Terdiam, Oleh Cintamu yang Tak Kunjung Diam
1 kamu tak tahu, betapa diam-diam begitu kusyukuri kebersamaan ini dengan diam yang paling diam mencoba terus meresapi riuh yang angkuh menggemuruh dalam diam memaknaimu... Baca lebih lanjut.
Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 3)
1 Baru setengah jalan Rasva menulis bait pertama, ketika dia merasa tangannya yang memegang pena bergetar hebat. Refleks dia lemparkan pena sekuatnya. Bulu kuduknya... Baca lebih lanjut.
Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 2)
Tanpa terasa setitik sedih mengalir di sudut mata Rasva, mengenang peristiwa paling brutal yang pernah ia buatkan laporan investigasinya, lengkap dengan rekaman... Baca lebih lanjut.
Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 1)
kenistaan adalah kinitatkala angan, yang hanya begitu sajamemaksaku untuk melacurkan semuasementara moralsudah jauh-jauh hari menguapdalam retorika ketinggian manusiayang... Baca lebih lanjut.
Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 3)
1 Hawa pembunuh yang aneh menyelinap dengan amat mendadak, membuat Bay dan Na saling melontar pandang dengan kening berkerut. Keduanya bangkit dengan sigap, dan... Baca lebih lanjut.
Na
2 Cinta Menandak hingga Puncak Tak Terpeta Bay sedang menatap langit-langit berjamur, tangannya menutupi mata. Sudah tiga jam ia berbaring di sofa kumal di ruang... Baca lebih lanjut.
7. Hujan Kesedihan di Mata Rin
1 Kami masih di pos ronda, duduk di bawah atap seng yang terus diguyur hujan. Rin merapatkan jaketnya sementara aku menggosok-gosokkan telapak tangan untuk mengusir... Baca lebih lanjut.
